Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ahlan wa Sahlan ya Akhi, ya Ukhti
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Mandi Romantis Bersama Pasangan

Written By Rizky Priyatna on Senin, 08 Agustus 2011 | 20.47


Bayangkan saja, sehari dua kali kita mandi. Barangkali, jika di rumah sendiri dan belum ada anak-anak yang menari-nari, mandi bersama bisa jadi aktifitas rutin yang super menyenangkan. Namun jika masih tinggal serumah dengan keluarga lain, atau anak-anak sudah menjelang besar, agenda seperti ini sebaiknya disimpan dulu menunggu saat yang tepat. Namun bukan berarti harus dihapus sama sekali.

Mandi bersama pasangan, bisa dilakukan ketika mandi janabah paska hubungan seksual untuk menambah kemesraan.

Demikian pula yang dilakukan Rasulullah SAW. Dari Aisyah ra, ia berkata;

“Adalah aku pernah mandi bersama Rasulullah dari satu bejana antara aku dan beliau. Kemudian ia mendahuluiku hingga aku mengatakan: “Tinggalkan untukku.” Aisyah berkata, “Dan keduanya dalam keadaan junub.” (HR Bukhari & Muslim).

Jika ada waktu dan kesempatan berlebih, mandi di pagi dan sore hari pun bisa Anda lakukan berduaan. Jika diukur dengan skala romantis, aktifitas yang satu ini sepertinya menduduki jajaran yang paling tinggi. Anda bisa saling membersihkan tubuh, menyiram, bermain air, atau sekedar menyikat gigi berpasangan, semuanya tidak bisa dilukiskan. Hanya Anda berdua yang tahu. Meski demikian, jangan melupakan efek negatifnya. Diantaranya, boros waktu dan mungkin boros air. Jika mandi sendiri kita mungkin hanya membutuhkan waktu 10-15 menit, namun jika berdua bersama pasangan, waktu selama itu hanya cukup untuk saling memandang saja. Hati-hati pula jika tagihan air bulanan membengkak. Namun semua itu tetap tak bisa dibandingkan dengan kemesraan yang Anda dapatkan dari aktifitas mandi berdua ini.

Jika Anda tak mempunyai waktu berlebih, atau ada anak-anak dan anggota keluarga lain yang mengitari, itu bukan berarti Anda tak bisa berbuat apa-apa. Sekedar menguatkan mesra, kita bisa saling membantu pasangan kita dalam hal persiapan mandi. Mungkin dengan menyiapkan air panas di malam hari bagi para suami yang baru datang, atau sekedar menantinya di luar dengan handuk siap ditangan. Harum dan segarnya tubuh suami atau istri Anda pasti akan mengundang sebentuk kemesraan yang lain. Begitu menyenangkan bukan?

Dari Maimunah, ia berkata, “Pada suatu kali aku menyiapkan air (mandi) untuk Rasulullah saw. Ketika beliau sedang mandi, aku menutupinya dengan sehelai kain. Setelah selesai ketika aku berikan handuk kepada beliau, beliau tidak menolaknya.” (HR. An-Nasa’i)

sumber: indonesiaoptimis.com

20.47 | 0 komentar

Hubungan Seksual Suami-Istri

Written By Rizky Priyatna on Sabtu, 06 Agustus 2011 | 19.56


Sebenarnya, masalah hubungan antara suami-istri itu pengaruhnya amat besar bagi kehidupan mereka. Maka hendaknya mereka memerhatikan atau menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan kerusakan dan kelangsungan hubungan suami-istri. Kesalahan yang bertumpuk dapat mengakibatkan kehancuran bagi kehidupan keluarganya.

Agama Islam dengan nyata tidak mengabaikan segi-segi kehidupan manusia dan kehidupan berkeluarga, yang telah diterangkan tentang perintah dan larangannya. Semua telah tercantum dalam ajaran-ajaran Islam, misalnya mengenai akhlak, tabiat, suluk, dan sebagainya. Tidak ada satu hal pun yang diabaikan (dilalaikan).

Islam telah menetapkan pengakuan bagi fitrah manusia dan dorongannya akan seksual, serta ditentangnya tindakan ekstrim yang condong menganggap hal itu kotor. Oleh karena itu, Islam melarang bagi orang yang hendak menghilangkan dan memfungsikannya dengan cara menentang orang yang berkehendak untuk selamanya menjadi bujang dan meninggalkan sunnah Nabi SAW, yaitu menikah.

Nabi SAW telah menyatakan sebagai berikut: “Aku lebih mengenal Allah daripada kamu dan aku lebih khusyuk, kepada Allah daripada kamu. Tetapi aku bangun malam, tidur, berpuasa, tidak berpuasa dan menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak senang (mengakui) sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”

Islam telah menerangkan terhadap kedua pasangan setelah pernikahan, mengenai hubungannya dan masalah-masalah seksual. Bahkan mengerjakannya dianggap suatu ibadat.

Sebagaimana dikatakan Nabi SAW, “Di kemaluan kamu ada sedekah (pahala).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketika kami bersetubuh dengan istri akan mendapat pahala?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya. Andaikata bersetubuh pada tempat yang dilarang (diharamkan) itu berdosa. Begitu juga dilakukan pada tempat yang halal, pasti mendapat pahala. Kamu hanya menghitung hal-hal yang buruk saja, akan tetapi tidak menghitung hal-hal yang baik.”

Berdasarkan tabiat dan fitrah, biasanya pihak laki-laki yang lebih agresif, tidak memiliki kesabaran dan kurang dapat menahan diri. Sebaliknya wanita itu bersikap pemalu dan dapat menahan diri.

Karenanya diharuskan bagi wanita menerima dan menaati panggilan suami. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “Jika si istri dipanggil oleh suaminya karena perlu, maka supaya segera datang, walaupun dia sedang masak.” (HR Tirmidzi)

Nabi SAW menganjurkan supaya si istri jangan sampai menolak kehendak suaminya tanpa alasan, yang dapat menimbulkan kemarahan atau menyebabkannya menyimpang ke jalan yang tidak baik, atau membuatnya gelisah dan tegang.

Nabi SAW bersabda, “Jika suami mengajak tidur si istri lalu dia menolak, kemudian suaminya marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat dia sampai pagi.” (Muttafaq Alaih).

Keadaan yang demikian itu jika dilakukan tanpa uzur dan alasan yang masuk akal, misalnya sakit, letih, berhalangan, atau hal-hal yang layak. Bagi suami, supaya menjaga hal itu, menerima alasan tersebut, dan sadar bahwa Allah SWT adalah Tuhan bagi hamba-hamba-Nya Yang Maha Pemberi Rezeki dan Hidayat, dengan menerima uzur hambaNya. Dan hendaknya hamba-Nya juga menerima uzur tersebut.

Selanjutnya, Islam telah melarang bagi seorang istri yang berpuasa sunnah tanpa seizin suaminya, karena baginya lebih diutamakan untuk memelihara haknya daripada mendapat pahala puasa. Nabi SAW bersabda, “Dilarang bagi si istri (puasa sunnah) sedangkan suaminya ada, kecuali dengan izinnya.” (Muttafaq Alaih)

Disamping dipeliharanya hak kaum laki-laki (suami) dalam Islam, tidak lupa hak wanita (istri) juga harus dipelihara dalam segala hal. Nabi SAW menyatakan kepada laki-laki (suami) yang terus-menerus puasa dan bangun malam. Beliau bersabda, “Sesungguhnya bagi jasadmu ada hak dan bagi keluargamu (istrimu) ada hak.”

Abu Hamid Al-Ghazali, ahli fiqih dan tasawuf, dalam kitab Ihya’ mengenai adab bersetubuh, berkata, “Disunnahkan memulainya dengan membaca basmalah dan berdoa, sebagaimana diajarkan Nabi SAW, “Ya Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau berikan kepadaku.”

Al-Ghazali berkata, “Dalam suasana ini (akan bersetubuh) hendaknya didahului dengan kata-kata manis, bermesra-mesraan dan sebagainya. Dan menutup diri mereka dengan selimut, jangan telanjang menyerupai binatang. Sang suami harus memelihara suasana dan menyesuaikan diri, sehingga kedua pasangan sama-sama dapat menikmati dan merasa puas.”

Menurut Ibnul Qayyim, tujuan utama dari jimak (bersetubuh) itu adalah: 1) Dipeliharanya nasab (keturunan), sehingga mencapai jumlah yang ditetapkan menurut takdir Allah. 2) Mengeluarkan air yang dapat mengganggu kesehatan badan jika ditahan terus. 3) Mencapai maksud dan merasakan kenikmatan, sebagaimana kelak di surga.

Ditambah lagi mengenai manfaatnya, yaitu menundukkan pandangan, menahan nafsu, menguatkan jiwa dan agar tidak berbuat serong bagi kedua pasangan.

Nabi SAW bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu melaksanakan pernikahan, maka hendaknya menikah. Sesungguhnya hal itu menundukkan penglihatan dan memelihara kemaluan.”

Kemudian Ibnul Qayyim berkata, “Sebaiknya sebelum bersetubuh hendaknya diajak bersenda-gurau dan menciumnya, sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya.”

Ini semua menunjukkan bahwa para ulama dalam usaha mencari jalan baik tidak bersifat konservatif. Bahkan tidak kalah kemajuannya daripada penemuan-penemuan atau pendapat masa kini.

Yang dapat disimpulkan di sini adalah bahwa sesungguhnya Islam telah mengenal hubungan seksual di antara kedua pasangan, suami-istri, yang telah diterangkan dalam Alquranul Karim pada surah Al-Baqarah, yang ada hubungannya dengan peraturan keluarga.

Firman Allah SWT: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa, bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu, Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah kamu, hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya…” (QS Al-Baqarah: 187).

Tidak ada kata yang lebih indah, serta lebih benar, mengenai hubungan antara suami-istri, kecuali yang telah disebutkan, yaitu: “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah: 187)

Pada ayat lain juga diterangkan, yaitu: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: Haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu dengan cara bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan takwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah: 222-223)

Maka, semua hadis yang menafsirkan bahwa dijauhinya yang disebut pada ayat di atas, hanya masalah persetubuhan saja. Selain itu, apa saja yang dapat dilakukan, tidak dilarang.

Pada ayat di atas disebutkan: “Maka, datangilah tanah tempat bercocok tanammu dengan cara bagaimanapun kamu kehendaki.” (QS Al-Baqarah: 223)

Tidak ada suatu perhatian yang melebihi daripada disebutnya masalah dan undang-undang atau peraturannya dalam Alquranul Karim secara langsung, sebagaimana diterangkan di atas. (cr01/RoL)

Sumber: Fatwa Qaradhawi

19.56 | 0 komentar

Akhlak Sebagai Benteng Keutuhan Rumah Tangga

Written By Rizky Priyatna on Sabtu, 30 Juli 2011 | 01.25


Bagaimana cara menjadi muslim yang terbaik? Mungkin orang akan menyuguhkan kriteria ubudiyah yang tinggi: Sholat malam tak pernah putus, puasa senin kamis tak pernah tertinggal, minimal sekali dalam sebulan harus khatam Al-Qur’an, dsb. Tapi kenyataannya Rasulullah tidak selalu mengajukan kriteria seperti itu. Kadang Rasulullah mengajukan kriteria: “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan." (HR Muslim) Dan pernah juga Rasulullah menyebut kriteria lain: "Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik akhlaknya kepada istrinya". (HR Tirmidzi)

Ternyata bagi seorang suami, media untuk menjadi muslim yang terbaik itu sangat dekat: pada "tulang rusuknya". Keberhasilan menjadi muslim yang terbaik berbanding lurus dengan akhlak kepada istri. Semakin baik akhlak seorang suami kepada istri, semakin baik ia di mata Allah swt.

Hikmah kriteria ini adalah akan terbentuknya keluarga yang utuh dan harmonis dalam naungan ridho Allah swt. Ketika seorang suami berusaha menjadi yang terbaik dengan cara menyempurnakan akhlaknya kepada istri, diharapkan akan ada respon yang baik dari istri yaitu pelayanan yang sempurna kepada suami. Dan ini akan menambah rasa kasih sayang di antara mereka. Anak-anak pun akan mendapat ketauladanan yang indah dari akhlak ayahnya. Di samping itu, hubungan orang tua yang mesra sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak. Anak yang besar dalam keluarga yang utuh jelas punya peluang untuk mendapat didikan yang lebih baik daripada anak yang besar dalam keluarga yang broken home.

Kalau mau ditarik lebih jauh hikmah dari kriteria ini, akan berdampak pada masyarakat, negara, dan dunia. Karena kumpulan keluarga yang muslim akan membentuk masyarakat yang damai. Masyarakat yang damai akan membentuk negara yang sejahtera. Dan seterusnya. Semua itu berpangkal pada akhlak seorang suami sebagai pribadi muslim. Itulah hikmah kriteria "akhlak kepada istri", dampaknya bisa luar biasa.

*****

Bagaimana menjaga keutuhan keluarga? Biasanya akan dijawab: dengan cinta. Memang banyak pasangan yang sudah punya modal cinta saat membangun rumah tangganya, tapi kenyataannya tetap banyak terjadi perceraian dan perselingkuhan. Cinta sudah selayaknya ada dalam rumah tangga, tapi kalau anda sudah menikah, rasanya anda akan sepakat bahwa akhlak lah yang menopang keutuhan rumah tangga.

Saya menemukan artikel yang menyebutkan bahwa hormon cinta hanya bertahan selama 4 tahun. Penelitian tentang itu diungkapkan oleh para peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico. Bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu sudah habis.

Sependek itu. Tapi saya yakin, durasi bertahannya rasa cinta akan berbeda pada tiap orang. Yang jelas, cinta itu bisa hilang!!!

Karena itu akan sangat riskan apabila rumah tangga hanya didasari oleh rasa cinta. Karena saat cinta itu hilang, maka ambruk lah bangunan rumah tangga itu. Bahkan walau pun masih ada cinta di antara pasangan suami istri, namun kalau dalam keseharian mereka tidak mampu saling menunjukkan akhlak yang baik dalam hubungannya, maka rumah tangga itu tetap terancam rubuh. Bahkan akhlak yang buruk itu mempercepat musnahnya cinta.

Kasih sayang bisa bersemi di atas akhlak yang kokoh. Bila suami memperlakukan istri dengan baik, dan istri membalas dengan pelayanan yang menyenangkan, maka saat itu lah do’a seorang pria yang minta dikaruniai istri dan anak-anak yang menjadi ‘cahaya mata’ (qurrota a’yun) terwujud.

Akhlak adalah benteng keutuhan rumah tangga.

****

Akhlak itu harus dimiliki oleh kedua pasangan, bukan hanya suami saja. Akhlak seorang istri kepada suami adalah saat ia menaati suaminya. Dan itu menjadi kewajiban yang tak boleh disepelekan. "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana." (Al-Baqarah: 228).

Rasulullah bersabda, "Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud, Al-Hakim)

Bahkan penyebab wanita banyak menjadi penghuni neraka adalah karena akhlaknya yang buruk kepada suami. Seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah saw: "Suatu ketika Rasulullah keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau saw bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau saw menjawab,’Kalian banyak melaknat dan maksiat terhadap suami’". (HR Bukhori)

Perkara yang mungkin sepele: mengabaikan kebaikan suami, bisa berakibat sangat fatal. Dalam suatu sabda Rasulullah saw: “…dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab:“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Berterima kasih atas kelebihan pasangan, dan sabar atas kekurangannya. Itu merupakan kunci akhlak dalam rumah tangga. "Tahu berterima kasih" bukan cuma diharuskan untuk istri, bahkan sikap itu harus dimunculkan oleh suami manakala terbersit ketidak-puasan terhadap istrinya. Allah berfirman, "…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS An-Nisa : 19) Begitulah tips yang diberikan oleh Allah kepada suami untuk mempertahankan rumah tangganya: bersabar dan memperhatikan kebaikan yang dimiliki oleh pasangan.

*****

Salah satu akhlak seorang suami yang mengokohkan rumah tangganya adalah ekspresi yang tidak terus terang saat menemukan kekurangan istri. Ia menyembunyikan kekecewaannya sehingga bisa menjaga perasaan istrinya. Seperi saat merasakan ada yang kurang dari masakan istrinya, seorang suami bisa menunjukkan akhlak yang baik saat ia malah memuji masakan itu.

Berdusta dalam rumah tangga - selama dalam kerangka kebaikan - diperbolehkan. Ummu Kultsum rha. berkata, ""Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya." (HR Muslim)

Ada cerita yang penuh hikmah tentang suami yang berekspresi normal saat melihat ketidak-sempurnaan istrinya, yang diceritakan oleh ustadz Anis Matta dalam bukunya ”Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga”.

Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam Shaed Al-Khathir kisah berikut ini: Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: ”amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?”

Beliau menjawab, ”sejak usia muda keluargaku selalu berupaya mengawinkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, ”Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon—atas nama Allah—agar sudilah kiranya engkau mengawiniku.” Maka akupun menemui orangtuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku mengawini puterinya.

Tapi, ketika wanita itu datang menemuiku—setelah akad, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.

Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya hingga akhir ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, dan ketulusan cintanya.

*****

Berkata ulama salaf: "Seorang suami yang sholih, bila dia mencintaimu maka bersyukurlah kepada Allah. Bila dia tidak menyukaimu, maka dia pasti tidak akan menzholimimu." (Seperti dikutip dari tulisan ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi di milis nashihah)


Untuk Istriku, mohon maaf atas segala kekurangan akhlakku, selama pernikahan kita. Tapi aku akan terus berusaha menyempurnakannya.

andaleh
01.25 | 0 komentar

Sebab-sebab Sulit Hamil Bagi Pasangan

Written By Rizky Priyatna on Sabtu, 23 Juli 2011 | 22.48


“Bentar lagi punya anak dong?”

Mungkin itu yang kerap kali terpikirkan oleh kita jika mendengar teman atau kerabat kita akan menikah.

Ya, memang sewajarnya yang terjadi setelah menikah adalah punya anak. Banyak dari kita melihat orang yang baru menikah, setelah satu dua bulan langsung isi alias hamil. Tapi tak sedikit pula pasangan yang telah bertahun menikah belum punya momongan juga. Ada baiknya jika hal ini terjadi, segera konsultasikan ke ahlinya.

Banyak penyebab terjadinya kejadian seperti ini.

Dari Pihak Pria

Pada saat terjadi ejakulasi, pria mengeluarkan cairan sperma (mani). Sekitar 60 -100 juta spermatozoa terkandung dalam air mani, tapi tidak semua sperma ini dalam bentuk normal. Air mani yang normal paling tidak terdiri dari 20 juta sperma per ml, dengan paling sedikit 50% dapat bergerak normal, dan 30% mempunyai bentuk yang normal.

Pada air mani biasanya juga terdiri dari sel-sel sperma yang belum matang dan sel darah putih. Jika terlalu banyak sel-sel ini, mengindikasikan adanya infeksi pada kelenjar kelamin seperti prostat atau terdapat kekurangan dalam pembentukan sperma.

Jenis-jenis sperma yang tidak normal :

  1. Azoospermia : pada air mani yang diperiksa tidak terdapat sperma (hanya air mani saja)
  2. Oligosperma : hanya terdapat sperma dengan konsentrasi rendah
  3. Asthenospermia : jika sperma yang motilitas (pergerakan)-nya baik kurang dari 50%
  4. Teratospermia : sperma yang mempunyai bentuk normal kurang dari 16%

Sperma yang tidak normal bisa berupa sperma yang tanpa ekor sehingga tidak bisa berenang menuju sel telur, bisa juga sperma yang bentuk kepalanya tidak cukup runcing untuk dapat menembus sel telur. Teratospermia disebut ringan bila sperma yang normal antara 10 % 15 %, dan disebut berat bila sperma yang normal kurang dari 5 %. Biasanya saat berkonsultasi anda diharuskan melakukan tes sperma. agar tau bagaimana keadaan sperma anda.

Dari Pihak Wanita

Masa subur adalah masa paling mungkin untuk terjadinya pembuahan. Pada masa ini sel telur ‘mejeng’ untuk menanti dibuahi sang sperma. Masa ini dimulai ketika hari ke 12 siklus haid (hari ke 1 adalah hari pertama mendapatkan haid). Tapi sudah berusaha di masa subur pun kok masih belum isi? Banyak hal yang mungkin menjadi sebabnya.

Pertama, mulut rahim retrofleksi atau mengarah ke belakang. Normalnya mulut rahim antefleksi atau mengarah kedepan. Situasi retrofleksi ini menyebabkan sperma yang masuk tidak dapat melanjutkan perjalanan karena terhambat mulut rahim yang mengarah kebelakang.

Kedua, rahim rapuh atau kurang kokoh. Ketika pembuahan terjadi, hasil pembuahan akan menempel pada diding rahim. Namun jika dinding rahim ini rapuh, hasil pembuahan tadi tidak akan bisa berkembang dan akan luruh.

Sekarang sudah banyak teknologi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Yang banyak di lakukan diantaranya program bayi tabung. Bagi pasangan awam, hal yang terpenting bagi pasangan yang sulit hamil adalah : konsultasi pada dokter.

Tak lupa untuk saling mendukung antar pasangan, jangan jadikan masalah ini sebagai pemicu pertengkaran rumah tangga, Serta tentunya tak lupa untuk selalu berikhtiar, bertawakal, beristighfar, dan berdoa.


Fimadani

22.48 | 0 komentar

Kunci mendidik Anak


Menghadapi anak kecil memang susah-susah gampang. Sekilas mungkin kita, orang dewasa akan berpikir betapa mudahnya memanipulasi mereka, mereka yang tidak tahu apa-apa, mereka yang hidup baru beberapa periode. Namun, tidak sedikit pula yang mampu menerima kenyataan bahwasanya sensitivitas anak-anak terhadap ketulusan begitu tingginya. Beruntung bagi Anda yang masuk di barisan kedua.

Nah jika Anda menginginkan sesuatu terjadi pada anak, maka kuncinya adalah konsisten dan sabar. Ingat, anak bukanlah orang dewasa mini yang terjebak dalam tubuh orang dewasa, mereka masih dalam proses belajar, jadi wajar jika mereka melakukan banyak kesalahan dan sering tidak sesuai dengan keinginan orang dewasa.

Tentang konsistensi, seberapa sering kita bersikap inkonsisten dalam berinteraksi dengan anak? Sudah sepakat dengan anak bahwa ke supermarket hanya beli alat tulis, namun tiba-tiba belanjaan bertambah dengan mainan, hanya karena tak tahan dengan rengekan sang anak. Konsistensi ini penting karena menyangkut peletakan dasar pendidikan kedisiplinan.

Drs. Zaenal Abidin M.Si, seorang psikolog UNDIP mengatakan ada dua teori psikologi, yakni behaviorisme dan kognitif. Dalam teori behaviorisme, seseorang menyerap pesan karena perilaku mereka yang cenderung meniru, sedangkan dalam psikologi kognitif pesan itu terserap apabila sejalan dengan pengetahuan, referensi dari lingkungannya, atau buku bacaannya.

Saat kita merasakan begitu sulitnya menanamkan kebiasaan baik pada anak, atau nasehat yang baik kepadanya, maka tentunya pesan tersebut harus disampaikan berulang-ulang dan terus-menerus, kegiatan penyampaian pesan yang dilakukan terus-menerus dan berulang inilah yang akan menjadi sugesti positif bagi penerima pesan (dalam hal ini adalah anak). Mestinya perlakuan ini harus diharmonisasikan dengan pola pendidikan dalam keluarga, bisa melalui keteladanan, penyampaian secara langsung, ataupun hasil belajar dari kesalahan.

Ada pengalaman menarik yang penulis dapat sewaktu menjadi instruktur sekolah rumah, sebutlah Hamza (2 th), anaknya pendiam, dan tak serapi kakaknya. Namun, dalam beberapa kali kesempatan saya selalu membiasakannya untuk teratur, misalnya kalau selesai bermain maka semua harus kembali seperti semula. Ya, sulit awalnya, tapi suatu saat temannya (Fauzan, 2 tahun) datang bermain ke rumah, si kecil Hamza mengatakan kepada Fausan, “Nanti selesai main dirapiin lagi ya?”, begitu terus diulanginya pernyataan tersebut karena melihat si Fauzan yang cuek bebek. Beberapa waktu berlalu, Bundanya Fauzan berpamitan akan pulang, dan tak disangka-sangka si kecil Hamza kembali mengingatkan, “mainannya dirapiin dulu yuk, mainannya dirapiin dulu..”, katanya sambil memasukkan mainan-mainan yang tercecer di lantai ke dalam toples.

Dari contoh tersebut, dapat kita simpulkan bahwa begitu pentingnya konsistensi dalam mendidik anak, mungkin tidak sekarang si anak melakukan apa yang kita inginkan, tetapi karena kita konsisten, ia menjadi sangat ingat dengan apa yang kita ajarkan kepadanya.

Yang kedua sabar, kenapa sabar? mungkin menurut beberapa orang aksi sabar ini sangat abstrak karena masuk dalam wilayah perasaan yang dalam pelaksanaannya berbeda-beda untuk tiap individu. Tapi tahukah Anda? Sabar adalah kunci paling pokok jika berhadapan dengan anak-anak. Lihat saja, jika Anda tidak sabar menghadapi mereka, maka sia-sia apa yang anda usahakan terhadap mereka. Semakin Anda tidak sabar, maka semakin menjauhlah si anak dari keinginan Anda.


Fimadani

22.42 | 0 komentar

Cara Memperlakukan Istri

Written By Rizky Priyatna on Sabtu, 09 Juli 2011 | 21.26


“Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)

Menikah adalah fitrah manusia. Rasulullah saw. menyebut menikah sebagai sunahnya. Bahkan, Nabi berkata, siapa yang membenci sunahnya, tidak termasuk dalam golongannya.

Setiap kita, pasangan muslim dan muslimah yang melakukan pernikahan, paham betul bahwa tujuan menikah yang utama adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Setelah itu untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawahdah wa rahmah dan meneruskan keturunan dengan memperoleh anak-anak yang saleh dan salehah. Kita juga menyadari bahwa lembaga keluarga yang kita bentuk adalah wadah untuk melaku proses perubahan, baik untuk diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan juga sadar bahwa keluarga adalah organisasi kecil yang memiliki aturan dalam pengelolaannya. Karena itu, sepasang suami-istri harus bisa memahami hak dan kewajiban dirinya atas pasangannya dan anggota keluarga lainnya.

Sepasang suami-istri dalam berinteraksi di rumah tangga sepatutnya melandasi hubungan mereka dengan semangat mencari keseimbangan, menegakkan keadilan, menebar kasih sayang, dan mendahulukan menunaikan kewajiban daripada menuntut hak.

Kewajiban seorang istri terhadap suaminya adalah pertama, mentaati suami. Namun, dalam mentaati suami juga ada batasannya. Batasan itu adalah seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah, Sang Pencipta.”

Kewajiban seorang istri terhadap suami yang kedua adalah menjaga kehormatan dirinya, suami, dan harta keluarga. Ketiga, mengatur rumah tangga. Keempat, mendidik anak-anak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita adalah pengasuh dan pendidik di rumah suami, dan bertanggung jawab atas asuhannya.” Keluarga adalah prioritas seorang istri, meski tidak ada larangan baginya untuk melakukan peran sosialnya di masyarakat seperti berdakwah, misalnya.

Dan kewajiban lain seorang istri kepada suaminya adalah berbuat baik kepada keluarga suami.

Sedangkan kewajiban seorang suami kepada istrinya adalah pertama, membayar mahar dengan sempurna. Kedua, memberi nafkah. Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan wanita, karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah; dan kewajiban kamu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik.”

Ketiga, suami wajib memberi perlindungan kepada istrinya. Keempat, melindungi istri dari siksa api neraka. Ini perintah Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Kewajiban keempat, mempergauli istri dengan baik. Allah berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)
Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (Tirmidzi)

Muasyarah bil ma’ruf

Di ayat 19 surat An-Nisa di atas, Allah swt. menggunakan redaksi “muasyarah bil ma’ruf”. Makna kata “muasyarah” adalah bercampur dan bersahabat. Karena mendapat tambahan frase “bil ma’ruf”, maknanya semakin dalam. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan “perbaikilah ucapan, perbuatan, penampilan sesuai dengan kemampuanmu sebagaimana kamu menginginkan dari mereka (pasanganmu), maka lakukanlah untuk mereka.”

Sedangkan Imam Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Pergaulilah istri kalian sebagaimana perintah Allah dengan cara yang baik, yaitu dengan memenuhi hak-haknya berupa mahar dan nafkah, tidak bermuka masam tanpa sebab, baik dalam ucapan (tidak kasar) maupun tidak cenderung dengan istri-istri yang lain.”

Adapun Tafsir Al-Manar menerangkan makna ”muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan, karena semua itu bertentangan dalam pergaulan yang baik dalam keluarga.”

Di antara bentuk perlakuan yang baik adalah melapangkan nafkah, meminta pendapat dalam urusan rumah tangga, menutup aib istri, menjaga penampilan, dan membantu tugas-tugas istri di rumah.

Salah satu hikmah Allah swt. mewajibkan seorang suami ber-muasyarah bil ma’ruf kepada istrinya adalah agar pasangan suami-istri itu mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Karena itu, para ulama menetapkan hukum melakukan “muasyarah bil ma’ruf” sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh para suami agar mendapatkan kebaikan dalam rumah tangga.

Karena itu, para suami yang mendambakan kebaikan dalam rumah tangganya perlu mendalami tabiat perempuan secara umum dan tabiat istrinya secara khusus. Jika menemukan ada sesuatu yang dibenci dalam diri istri, demi kebaikan keluarga temukan lebih banyak kebaikan-kebaikannya. Suami juga harus tahu apa perannya dalam rumah tangga. Dan, jangan pernah mencelakan istri dengan kekerasan, baik secara fisik maupun mental. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.,” Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan , memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.”

Bagaimana jika timbul perselisihan? Cekcok antara suami-istri adalah hal yang manusiawi. Jika Rasulullah saw. memberi toleransi waktu tiga hari bagi dua orang muslim saling mendiamkan satu sama lain, alangkah baiknya jika suami-istri saling mendiamkan di pagi hari, di malam harinya sudah bisa saling senyum lagi. Kenapa?

Sebab, pasangan suami-istri muslim dan muslimah paham betul bahwa perselisihan mereka adalah gangguan Iblis. Rasulullah saw. pernah menerangkan kepada para sahabat, “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukannya, maka yang paling dekat kepadanya, dialah yang paling besar fitnahnya. Lalu datanglah salah seorang dari mereka seraya berkata: aku telah melakukan ini dan itu, Iblis menjawab, kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian datang lagi yang lain melapor, aku mendatangi seorang lelaki dan tidak akan membiarkan dia, hingga aku menceraikan antara dia dan istrinya, lalu Iblis mendekat seraya berkata, “Sangat bagus kerjamu” (Muslim)

Begitulah, Iblis menjadikan menceraikan pasangan suami-istri sebagai prestasi tertinggi tentaranya. Karena itu, Islam mencegah perbuatan yang bisa menyebabkan perselisihan suami-istri. Karena itu, jika cekcok dengan pasangan hidup Anda, segera selesaikan masalahnya. Upayakan selesaikan masalah rumah tangga sendiri. Jangan menghadirkan pihak ketiga. Jika belum selesai juga, hadirkan seseorang yang bisa menjadi hakim yang bisa diterima kedua belah pihak.

Seiring dengan panjangnya perjalanan waktu dan lika-liku kehidupan, kadang ikatan pernikahan mengkendur. Karena itu, perkuat lagi ikatan itu dengan mengingat-ingat kembali tujuan pernikahan. Bangun komunikasi yang positif. Komunikasi adalah kunci keharmonisan. Karena itu, pahami betul cara berkomunikasi pasangan Anda. Dan, hidupkan syuro dalam keluarga. Bahkan untuk urusan kecil sekalipun perlu dibicarakan bersama. Insya Allah, Allah swt. akan memberi kebaikan yang banyak dalam keluarga Anda. Amin.


Mochamad Bugi

21.26 | 0 komentar

Hak Istri atas Suami


Syariat mewajibkan kepada suami untuk memenuhi kebutuhan istrinya yang berupa kebutuhan material seperti nafkah, pakaian, tempat tinggal, pengobatan dan sebagainya, sesuai dengan kondisi masing-masing, atau seperti yang dikatakan oleh Al-Qur’an “bil ma’ruf” (menurut cara yang ma’ruf/patut).

Namun syariat tidak pernah melupakan akan kebutuhan-kebutuhan spiritual yang manusia tidaklah bernama manusia kecuali dengan adanya kebutuhan-kebutuhan tersebut, sebagaimana kata seorang pujangga kuno: “Maka karena jiwamu itulah engkau sebagai manusia, bukan cuma dengan badanmu.”

Bahkan Al-Qur’an menyebut perkawinan ini sebagai salah satu ayat di antara ayat-ayat Allah di alam semesta dan salah satu nikmat yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Firman-Nya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar Rum: 21)

Ayat ini menjadikan sasaran atau tujuan hidup bersuami istri ialah ketenteraman hati, cinta, dan kasih sayang antara keduanya, yang semua ini merupakan aspek kejiwaan, bukan material. Tidak ada artinya kehidupan bersuami istri yang sunyi dari aspek-aspek maknawi ini, sehingga badan berdekatan tetapi ruh berjauhan.

Dalam hal ini banyak suami yang keliru—padahal diri mereka sebenarnya baik—ketika mereka mengira bahwa kewajiban mereka terhadap istri mereka ialah memberi nafkah, pakaian, dan tempat tinggal, tidak ada yang lain lagi. Dia melupakan bahwa wanita (istri) itu bukan hanya membutuhkan makan, minum, pakaian, dan lain-lain kebutuhan material, tetapi juga membutuhkan perkataan yang baik, wajah yang ceria, senyum yang manis, sentuhan yang lembut, ciuman yang mesra, pergaulan yang penuh kasih sayang, dan belaian yang lembut yang menyenangkan hati dan menghilangkan kegundahan.

Imam Ghazali mengemukakan sejumlah hak suami istri dan adab pergaulan di antara mereka yang kehidupan berkeluarga tidak akan dapat harmonis tanpa semua itu. Di antara adab-adab yang dituntunkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah itu ialah berakhlaq yang baik terhadapnya dan sabar dalam menghadapi godaannya.

Allah berfirman: “… Dan gaulilah mereka (istri-istrimu) dengan cara yang ma’ruf (patut)…” (QS An Nisa’: 19)

“… Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS An Nisa’: 21)

“… Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu…” (QS An Nisa’: 36)

Ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “teman sejawat” dalam ayat di atas ialah istri. Imam Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa berakhlaq baik kepada mereka (istri) bukan cuma tidak menyakiti mereka, tetapi juga sabar menerima keluhan mereka, dan penyantun ketika mereka sedang emosi serta marah, sebagaimana diteladankan Rasulullah SAW. Istri-istri beliau itu sering meminta beliau untuk mengulang-ulangi perkataan, bahkan pernah ada pula salah seorang dari mereka menghindari beliau sehari semalam.

Beliau pernah berkata kepada Aisyah, “Sungguh, aku tahu kalau engkau marah dan kalau engkau rela.”

Aisyah bertanya, “Bagaimana engkau tahu?”

Beliau menjawab, “Kalau engkau rela, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad,’ dan bila engkau marah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’

Aisyah menjawab, “Betul, (kalau aku marah) aku hanya menghindari menyebut namamu.”

Dari adab yang dikemukakan Imam Ghazali itu dapat ditambahkan bahwa di samping bersabar menerima atau menghadapi kesulitan istri, juga bercumbu, bergurau, dan bermain-main dengan mereka, karena yang demikian itu dapat menyenangkan hati wanita. Rasulullah SAW biasa bergurau dengan istri-istri beliau dan menyesuaikan diri dengan pikiran mereka dalam bertindak dan berakhlaq, sehingga diriwayatkan bahwa beliau pernah melakukan perlombaan lari cepat dengan Aisyah.

Umar bin Al-Khathab—yang dikenal berwatak keras itu—pernah berkata, “Seyogianya sikap suami terhadap istrinya seperti anak kecil, tetapi apabila mencari apa yang ada di sisinya (keadaan yang sebenarnya) maka dia adalah seorang laki-laki.”

Dalam menafsirkan hadits: “Sesungguhnya Allah membenci alja’zhari al-jawwazh,” dikatakan bahwa yang dimaksud ialah orang yang bersikap keras terhadap istri (keluarganya) dan sombong pada dirinya. Dan ini merupakan salah satu makna firman Allah: ‘utul. Ada yang mengatakan bahwa lafal ‘utul berarti orang yang kasar mulutnya dan keras hatinya terhadap keluarganya.

Keteladanan tertinggi bagi semua itu ialah Rasulullah SAW. Meski bagaimanapun besarnya perhatian dan banyaknya kesibukan beliau dalam mengembangkan dakwah dan menegakkan agama, memelihara jamaah, menegakkan tiang daulah dari dalam dan memeliharanya dari serangan musuh yang senantiasa mengintainya dari luar, beliau tetap sangat memperhatikan para istrinya. Beliau adalah manusia yang senantiasa sibuk berhubungan dengan Tuhannya seperti berpuasa, shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir, sehingga kedua kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri ketika melakukan shalat lail, dan menangis sehingga air matanya membasahi jenggotnya.

Namun sesibuk apa pun beliau tidak pernah melupakan hak-hak istri-istri beliau yang harus beliau penuhi. Jadi aspek-aspek Rabbani tidaklah melupakan beliau terhadap aspek insani dalam melayani mereka dengan memberikan makanan ruhani dan perasaan mereka yang tidak dapat terpenuhi dengan makanan yang mengenyangkan perut dan pakaian penutup tubuh.

Dalam menjelaskan sikap Rasulullah dan petunjuk beliau dalam mempergauli istri, Imam Ibnu Qayyim berkata, “Sikap Rasulullah SAW terhadap istri-istrinya ialah bergaul dan berakhlaq baik kepada mereka. Beliau pernah menyuruh gadis-gadis Anshar menemani Aisyah bermain. Apabila istrinya (Aisyah) menginginkan sesuatu yang tidak terlarang menurut agama, beliau menurutinya. Bila Aisyah minum dari suatu bejana, maka beliau ambil bejana itu dan beliau minum daripadanya pula dan beliau letakkan mulut beliau di tempat mulut Aisyah tadi (bergantian minum pada satu bejana/tempat), dan beliau juga biasa makan kikil bergantian dengan Aisyah.”

Beliau biasa bersandar di pangkuan Aisyah, beliau membaca Al-Qur’an sedang kepala beliau berada di pangkuannya. Bahkan pernah ketika Aisyah sedang haidh, beliau menyuruhnya memakai sarung, lalu beliau memeluknya. Bahkan pernah juga menciumnya, padahal beliau sedang berpuasa.

Di antara kelemah-lembutan dan akhlaq baik beliau lagi ialah beliau memperkenankan istrinya untuk bermain dan mempertunjukkan kepadanya permainan orang-orang Habsyi ketika mereka sedang bermain di masjid, dia (Aisyah) menyandarkan kepalanya ke pundak beliau untuk melihat permainan orang-orang Habsyi itu. Beliau juga pernah berlomba lari dengan Aisyah dua kali, dan keluar dari rumah bersama-sama.

Sabda Nabi SAW, “Sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”

Apabila selesai melaksanakan shalat Ashar, Nabi senantiasa mengelilingi (mengunjungi) istri-istrinya dan beliau tanyakan keadaan mereka, dan bila malam tiba beliau pergi ke rumah istri beliau yang pada waktu itu mendapat giliran. Aisyah berkata, “Rasulullah SAW tidak melebihkan sebagian kami terhadap sebagian yang lain dalam pembagian giliran. Dan setiap hari beliau mengunjungi kami semuanya, yaitu mendekati tiap-tiap istri beliau tanpa menyentuhnya, hingga sampai kepada istri yang menjadi giliran beliau, lalu beliau bermalam di situ.”

Kalau kita renungkan apa yang telah kita kutip di sini mengenai petunjuk Nabi SAW tentang pergaulan beliau dengan istri-istri beliau, kita dapati bahwa beliau sangat memperhatikan mereka, menanyakan keadaan mereka, dan mendekati mereka. Tetapi beliau mengkhususkan Aisyah dengan perhatian lebih. Namun ini bukan berarti beliau bersikap pilih kasih, tetapi karena untuk menjaga kejiwaan Aisyah yang beliau nikahi ketika masih perawan dan karena usianya yang masih muda.

Beliau menikahi Aisyah ketika masih gadis kecil yang belum mengenal seorang laki-laki pun selain beliau. Kebutuhan wanita muda seperti ini terhadap laki-laki lebih besar dibandingkan dengan wanita janda yang lebih tua dan telah berpengalaman. Yang kami maksudkan dengan kebutuhan di sini bukan sekadar nafkah, pakaian, dan hubungan biologis saja. Bahkan kebutuhan psikologis dan spiritualnya lebih penting dan lebih dalam daripada semua itu. Karena itu, tidaklah mengherankan jika kita lihat Nabi SAW selalu ingat aspek tersebut dan senantiasa memberikan haknya serta tidak pernah melupakannya meskipun tugas yang diembannya besar, seperti mengatur strategi dakwah, membangun umat, dan menegakkan daulah.

“Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat teladan yang bagus bagi kamu.”


Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Sumber: Fatwa-Fatwa Kontemporer, DR. Yusuf Qaradhawi

(RoL)


21.16 | 0 komentar

20 Cara Membahagiakan Suami Anda

Written By Rizky Priyatna on Selasa, 28 Juni 2011 | 04.27


1. Anda adalah sekuntum mawar yang sedang bersinar di rumah Anda. Buatlah disaat suami Anda masuk ke rumah, dia merasa bahawa kecantikan dan keharuman mawar tersebut, tidak bukan dan tidak lain hanyalah untuknya seorang.

2. Bagaimana caranya agar suami Anda itu boleh merasa tenteram dan nyaman, baik dengan perbuatan ataupun dengan kata-kata ? Hal... itulah yang secara terus menerus Anda selalu usahakan untuk suami Anda. Untuk kesempurnaannya, lakukan itu dengan sepenuh jiwa.

3. Bersopan dan penuh perhatianlah Anda ketika berbincang-bincang, jauhkanlah perdebatan dan hindarkan sikap keras kepala untuk mengemukakan pendapat Anda.

4. Pahami kebenaran dan keindahan prinsip-prinsip Islam di balik kelebihan sang suami terhadap Anda selaku istri, yang memang terkait dengan kodrat seorang wanita, dan janganlah hal ini dianggap sebagai sesuatu yang dzolim (penindasan).

5. Lembutkanlah suara Anda ketika berbicara dengan suami dan pastikan suara Anda tidak meninggi pada saat dia bersama Anda.

6. Pastikan Anda bangun pada malam hari untuk melakukan sholat malam secara rutin, hal ini akan membawa kecerahan dan kebahagiaan pada perkawinan Anda, sungguh mengingat Allah SWT akan membawa ketenangan pada hati Anda.

7. Bersikaplah diam ketika suami Anda sedang marah dan jangan tidur kecuali dia mengizinkannya.

8. Berdirilah dekat suami Anda ketika dia sedang memakai baju dan sepatunya.

9. Layanlah suami Anda sehingga merasa bahawa Anda menginginkan suami untuk mengenakan baju yang Anda pilih untuk dia, sebaik-baiknya anda yang memilih baju untuk suami Anda.

10. Anda harus sensitif dan memahami keperluan suami Anda, untuk menjadikan pernikahan Anda menjadi yang terbaik tanpa membuang waktu Anda yang banyak.

11. Ketika ada perselisihan pendapat, hendaknya Anda tidak menunggu agar suami meminta ma’af kepada Anda (jangan jadikan hal ini sebagai satu keperluan utama atau syarat terpenting pada diri Anda) kecuali kalau suami Anda secara sadar mengakui kesalahanya.

12. Perbaikilahlah penampilan dan pakaian suami Anda, biarpun kelihatannya suami Anda malas untuk memperbetulkan dan memakainya, tapi yakinlah bahwa dia akan menyukainya sebagaimana sahabat-sahabatnya juga akan menyukainya.

13. Kalau boleh Anda jangan selalu mengharapkan suami Anda untuk memulakan hubungan seks, sekali-sekala biarlah Anda yang memulakanya lebih dulu, pada waktu yang sesuai.

14. Di malam hari, jadilah seperti pengantin baru buat suami Anda, janganlah Anda terlena tidur lebih dulu dari suami, kecuali dalam suasana sangat perlu.

15. Janganlah menunggu atau mengharapkan balasan dari semua perbuatan dan kebaikan dari suami Anda, kebanyakan suami sentiasa sibuk dalam kerjayanya, memang suami mudah lupa untuk menghargai kebaikan anda, atau secara tidak sengaja lupa untuk menyampaikan penghargaan yang semestinya kepada Anda.

16. Hendaknya berbuat sesuai dengan keadaan dan kemampuan keuangan yang ada dan jangan meminta sesuatu yang berlebihan dan mahal.

17. Ketika suami Anda baru pulang dari perjalanan yang jauh dan lama ataupun agak jauh dari tempat kediaman anda, sambutlah dia dengan wajah yang ceria dan tunjukkanlah bahawa Anda sangat merindukan kedatangannya.

18. Ingatlah selalu bahawa semasa suami ada dan kewujudan suami adalah salah satu kemudahan mendekatkan diri Anda kepada Allah SWT.

19. Pastikan Anda untuk selalu memperbaharui dan merubah bentuk penampilan Anda, sebagai tanda dan ucapan kasih Anda menyambut suami tercinta.

20. Ketika suami meminta sesuatu untuk melakukan hal-hal tertentu, maka pastikan Anda melakukannya dengan sempurna dan sepenuh hati, jangan sampai Anda merasa enggan dan tidak bersemangat.

SELAMAT MENCOBA ^^

04.27 | 0 komentar

Bagaimana pendapat anda tentang web ini?