Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ahlan wa Sahlan ya Akhi, ya Ukhti
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Jilbabku bukan belenggu

Written By Rizky Priyatna on Sabtu, 17 September 2011 | 23.05


Jilbabku Bukan Belenggu

Jilbabku Kebebasanku

Kata-kata diatas saya temui pertama kali di selembar poster yang diletakkan di dinding kaca Student Store kampus saya saat masih berstatus sebagai mahasiswa. Terkesan dengan kata-katanya dan mencoba mencari makna di balik kata-kata itu.

Jilbabku Bukan Belenggu

Kata belenggu jika dilihat dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki definisi ikatan (sehingga tidak bebas lagi). Jadi jika dikaitkan dengan frase: “Jilbabku Bukan Belenggu”, kurang lebih begini jadinya: “Jilbabku bukanlah hal yang membuat menjadi tidak bebas”. Maka frase “Jilbabku Bukan Belenggu” sangat pas jika kemudian disandingkan dengan frase “Jilbabku Kebebasanku”. Tentunya frase kedua ini berperan sebagai penguat dari frase pertama.

Lantas apa makna sesungguhnya dari keduanya?

Mungkin masih ada sebagian kita yang berpikir bahwa ketika seorang muslimah memutuskan untuk mengenakan jilbab, maka dia tidak akan bebas melakukan apapun, merasa dirinya terbatasi dengan jilbab yang dikenakan. Ketika berjilbab, seorang muslimah tak boleh melakukan ini itu, harus meninggalkan seluruh kebiasaan lamanya. Ketika berjilbab, seorang muslimah harus kalem, pendiam, dll. Benarkah statement ini?

Tidak kawan!

Siapa bilang ketika seorang muslimah memutuskan untuk berjilbab tak bebas melakukan apa-apa? Ada seorang muslimah yang hobi naik gunung, tetap naik gunung ketika memutuskan berjilbab syar’i, dengan rokcel-nya (rok celana). Ada seorang muslimah yang hobi nyanyi, akhirnya bernasyid ria ketika memutuskan berjilbab dan sering diminta tampil dalam acara kemuslimahan. Ada seorang muslimah yang hobi renang, tetap renang secara rutin di kolam renang khusus muslimah ketika memutuskan berjilbab. Bahkan banyak juga muslimah berjilbab yang tak kalah prestasinya dengan perempuan-perempuan lain.

Tak jauh-jauh dari kehidupan penulis, teman penulis sendiri. Ada seorang muslimah berjilbab yang hobi dan memiliki bakat seni lukis, dia akhirnya membuat bisnis sepatu lukis dan jilbab lukis. Ada seorang muslimah berjilbab yang menjadi mapres (mahasiswa berprestasi) tingkat fakultas dan sering mengikuti berbagai konferensi tingkat nasional bahkan internasional, dan nyatanya jilbab panjangnya tak mengerdilkan confidence nya. Ada seorang muslimah berjilbab yang mengikuti kontes roket tingkat nasional, dan nyatanya jilbab panjangnya tak menghalanginya untuk tetap berprestasi. Ada seorang muslimah berjilbab yang bisa mengendarai mobil dan menjadi andalan untuk acara-acara kemuslimahan, tanpa ketergantungan dengan kaum Adam yang biasanya kebanyakan bisa mengendarai mobil. Ada seorang muslimah berjilbab yang kuliah di luar negeri dan dia pun tetap PD dengan lingkungan sekitarnya yang non muslim, karena pandai membawa diri dalam pergaulan. Bahkan pernah suatu ketika teman perempuan non muslimnya mencoba mengenakan jilbab dan bilang: Aku cantik ya?

Jadi, tak ada hubungannya bukan bahwa jilbab itu suatu belenggu bagi para muslimah? Muslimah berjilbab masih bisa melakukan apa yang disukainya bahkan meraih prestasi di bidangnya masing-masing.

Ada satu cerita unik terkait keputusan seorang muslimah untuk berjilbab. Ada seorang muslimah yang belum berjilbab walaupun sebenarnya sudah ada niat dalam hatinya untuk berjilbab. Setelah bertahun-tahun, akhirnya keputusan untuk berjilbab pun datang juga. Bagaimanakah hal itu bermula?

Hidayah itu bermula dari ‘tembakan’ seorang laki-laki kepada dirinya saat ia duduk di kelas 2 SMA. Saat itu di hari Rabu sepulang sekolah, teman dekatnya, seorang laki-laki, menyatakan cinta padanya dan menginginkan sang muslimah menjadi pacarnya, dengan ungkapan: “maukah kamu jadi pacarku?”

Tentu sang muslimah terkejut dan tak menyangka jika ternyata teman dekatnya menyimpan rasa padanya selama ini. Hingga akhirnya, sang muslimah tak serta merta menjawab pertanyaan itu dan meminta waktu beberapa hari untuk bisa menjawabnya.

Dalam kebimbangan, ia pun memohon petunjuk padaNYA. Tiga hari tiga malam ia jalani shalat istikharah. Dan tepat di malam ketiga, seusai istikharah, ia bermimpi. Apa mimpinya? Ia bermimpi sedang berada di sebuah taman dan ada yang berbeda pada dirinya. Ya! Itulah jawaban Allah atas masalahnya.

Senin menjelang, sang muslimah pun berangkat ke sekolahnya. Ia disambut oleh kakak-kakak akhwat ROHIS dengan cipika cipiki dan memberikan selamat kepadanya. Teman laki-laki sang muslimah yang me’nembak’nya pun melihat keramaian di pintu kelasnya: sang muslimah kini berjilbab. Dan sang laki-laki tahu, inilah jawaban dari sang muslimah tanpa diucapkan langsung olehnya.

Satu hal yang diyakini sang muslimah bahwa jilbab membebaskan dirinya dari jerat nafsu syetan. Ketika ada teman laki-laki yang mengajaknya berpacaran, maka inilah jawabannya dan juga jawaban-NYA.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkanjilbab ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (Q.S Al-Ahzab: 59)

Semoga ayat cintaNYA melembutkan hati-hati kita..

Bagi yang belum berjilbab, maka bersegeralah, karena ini perintahNYA..

Bagi yang sudah berjilbab, semoga keistiqomahan senantiasa kita usahakan..

Karena sesungguhnya, hidayah dan istiqomah itu bukanlah hal yang kita peroleh tanpa usaha..

Tanamkan dalam diri bahwa:

Jilbabku Bukan Belenggu

Jilbabku Kebebasanku

Jilbabku Identitasku

Jilbabku Jati Diriku

Selamat Hari Solidaritas Jilbab Internasional..


Oleh: Linda Puspita Sari

23.05 | 0 komentar

Ketika Akhwat Harus Menawarkan Diri

Written By Rizky Priyatna on Sabtu, 30 Juli 2011 | 01.22


Kala hati ini bergejolak
Siapa yang tau
Ketika hati ini semakin gundah
Siapa yang tau
Salahkah diri ini ketika harus menawarkan diri
Aku cinta bukan untuk kehinaan
Tapi untuk kebaikan hati dalam ridho Tuhan

Pernikahan adalah suatu hal yang sangat penuh dengan nilai kebaikan dan kesempurnaan. Tak sedikit para ikhwan dan akhwat yang hatinya penuh dengan gejolak karena syahwat dunia yang semakin hari semakin sulit untuk di bendung.

Setiap pertemuan selalu mendebarkan, terkadang tak tertahankannya perasaan membuat jatuh kedalam jurang yang gelap semakin menjauhkan dari keimanan. Naudzubillah.

Mungkin akan sedikit aneh di negri ini ketika seorang wanita atau akhwat memulai melantunkan nada pinangan kepada ikhwan yang di kehendakinya, karena hal ini sangat jarang di dengar tapi sesungguhnya sering kali terjadi. Hanya saja nada pinangan ketika akhwat yang memulainya agak sedikit aneh terdengar di gendering telinga. Seperti ada kerendahan, kehinaan, dan kejatuhan harga diri dari kemuliaan yang tidak mendasar.

Mungkin di antara kita tak sedikit bertemu atau melihat ada beberapa orang tua gadis yang mempunyai pertemanan dengan orang tua seorang ikhwan. Terlontarlah sebuah kebaikan dari orang tua si gadis untuk menjodohkan anak mereka. Sekilas mungkin biasa saja, tapi ini telah termasuk kedalam proses penawaran seorang gadis pada seorang ikhwan.

Banyak hal ini sebenarnya terjadi di dalam lingkungan kita, tapi terkadang kita tidak menyadarinya bahwa telah terjadi suatu proses peminangan seorang akhwat pada seorang ikhwan.

Tinjauan syar’i tentang hal ini?

Hal inipun telah banyak terjadi pada zaman Rasulullah saw dan para sahabat. Tak sedikit akan kita temui riwayat para wanita menawarkan dirinya pada seorang laki-laki. Bahkan para sahabat Rasul saw dan ulama memandang sikap menawarkan diri ini sebagai sikap yang terpuji dan merupakan kemuliaan bagi si wanita.

Diriwayatkan dari Anas ra, ia bercerita, seorang wanita dating kepada Rasulullah saw untuk menawarkan dirinya kepada beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau membutuhkan aku (sebagai istri)? Mendengar hal itu, putrid Anas berkata, “Betapa sedikit rasa malunya, dan betapa buruknya.” Anas berkata, “Ia lebih baik daripada engkau. Ia menyukai Rasulullah lalu menawarkan dirinya kepada Beliau.” (Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (5120), an-Nasa’I (VI/78, dan Ibnu Majah (2001)

Bagaimana Cara Akhwat Meminang Ikhwan?

Berkenaan dengan cara ini, tentunya kita tidak berlepas diri dari kisah-kisah shahih yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama gar tidak terjerumus pada hal-hal yang halal tapi kemudian menjadi haram.

a. Melalui orang tua atau kerabat

“Ummu Habibah binti Abu Sufyan berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, nikahlah dengan saudara perempuanku puteri Abu Sufyan.” Beliau saw bertanya, “Apakah kamu menyukai yang demikian itu?” Ummu Habibah menjawab, “Saya tidak asing lagi bagimu, dan engkaulah yang paling kuinginkan untuk menyertai aku dalam kebaikan saudara perempuanku.” (diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Pada kisah tersebut Ummu Habibah menawarkan saudara perempuannya pada Rasulullah saw, tapi kemudian Rasulullah saw menolaknya karena Ummu Habibah adalah istri Rasulullah saw dan tidak diperbolehkannya menikah dengan saudara perempuan istri.

Kemudian kita bisa belajar dari kisah Nabi Syu’aib as yang sudah sangat tua, yang kemudian menawarkan salah seorang putrinya kepada nabi Musa as sebagaimana tersurat di dalam Al Qur’an surat Al Qashash ayat 27-28 :

Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik".Dia (Musa) berkata: "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan".

b. Menawarkan diri secara langsung

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad ra bahwa telah dating seorang wanita menawarkan dirinya kepada Rasulullh saw kemudian Rasulullah saw menundukkan pandangan darinya hingga datang seorang laki-laki berkata kepada Beliau, “Nikahkanlah aku dengannya.” (Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (5126) dan Muslim (1425))

Dari hadist ini kita dapat mengambil hikmah bahwa, apabila telah telah ada seorang laki-laki baik dalam agamanya dan matang dalam kepribadiannya lalu kemudian kita menghendakinya maka tak salah kita menyampaikan langsung hal tersebut padanya.

Hal ini juga ditempuh oleh Rabi’ah asy-Syamiyah ketika menawarkan dirinya kepada Syekh Ahmad bin Abu al-Huwari yang dikenal dengan kebaikan agama dan akhlaknya dan kemudian Syekh Ahmad pun menikah dengan Rabi’ah asy-Syamiyah setelah berkonsultasi dengan gurunya.

Nasihat Dalam Hal Ini

Meminang ikhwan yang dilakukan oleh akhwat adalah hal yang diperbolehkan dan tidak ada halangan bagi si akhwat untuk melakukan ini.

Namun kemudian tak sedikit ulama yang lebih menjaga hal ini agar tidak menimbulkan fitnah bukan bermaksud untuk mengahalangi si akhwat untuk melakukan hal ini, tidak lebih hanyalah untuk tetap bisa menjaga martabat dan kehormatan dari si akhwat dan menghindarkan timbulnya kerusakan.

Kemudian dalam memilih lelaki yang akan di pinang para ulamapun bersepakat bahwa lelaki itu telah terlebih dahulu dipastikan kesalihannya, kematangan emosionalnya, dan keluhuran akhlaknya.

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin Ali, “Aku mempunyai seorang putrid. Siapakah kiranya yang patut menjadi suaminya menurut engkau?” Jawabnya, “Seorang laki-laki yang bertaqwa kepada Allah. Karena jika ia senang, ia akan menghormatinya dan jika ia sedang marah, ia tidak suka berbuat dzalim kepadanya.”

Belajar Dari Khadijah

Terakhir ada sedikit kutipan dari buku ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang berjudul “Saatnya untuk Menikah”, bagaimana agar kita bisa belajar dari Khadijah ra dalam hal menawarkan diri ini.

Sebelum Khadijah memutuskan untuk menawarkan diri kepada Muhammad yang ketika itu belum menjadi Nabi langkah pertama yang di ambil adalah mencari informasi sejelas-jelasnya dan setepat-tepatnya tentang Muhammad dengan mengutus Maisarah, seorang pekerja laki-laki yang bekerja padanya untuk mengikuti perjalanan dagang yang dipimpin oleh Muhammad.

Setelah memperoleh informasi yang rinci dan cukup, Khadijah kemudian mengutus Nafisah binti Munayyah (seorang wanita setengah bayah, berusia sekitar 50 tahun) yang kemudian bertugas menjajaki kemungkinan dan sekaligus menawarkan apabila terlihat adanya peluang.

Singkat cerita, pernikahanpun dilangsungkan dengan sebelumnya dilakukan peminangan resmi oleh keluarga Muhammad yang diwakili oleh pamannya, Abu Thalib dan Hamzah kepada keluarga Khadijah.

Dari hal ini, ada 4 hal penting yang perlu kita mencatatnya baik-baik sebelum menawarkan diri.

Pertama, carilah informasi sedetail-detailnya dan setepat-tepatnya sebelum memutuskan untuk menawarkan diri sehingga tidak terjadi ganjalan di tengah-tengah proses

Kedua, gendaknya kita menawarkan diri melalui perantaraan orang lain, bukan diri sendiri agar dapar dihindari hal-hal yang tidak perlu karena pengajuan penawaran yang tergesa-gesa

Ketiga, orang yang diminta untuk menjadi perantara adalah wanita yang sudah setengah baya, karena mereka cenderung lebih mudah dalam mengkomunikasikan hal ini, insyaAllah akan memberikan hasil yang lebih baik

Keempat, proses menuju pernikahan tetap dilanjutkan dengan peminangan secara resmi oleh pihak laki-laki.

Penutup

Demikian pembahasan ini untuk kita pelajari bersama. Jika memang dia yang shalih akhlak dan agamanya telah hadir dalam mimpi-mimpi kita, lalu apa yang membuat kita ragu untuk menyampaikannya pada orang tua seperti Hafshah ra yang memberikan “masukan” kepada ayahnya? Atau sebagaimana putri Syafura yang menyampaikan hal itu kepada ayahnya, Nabiyullah Syu’aib as.

Kenapa kita harus membiarkan hal ini membuat rusuh risau hati yang bisa menjerumuskan kedalam kegelapan syahwat dunia.

Wallahu ‘alam bishawab





Pustaka
1. Di Jalan Dakwah Aku Menikah, Cahyadi Takariawan
2. Saatnya Untuk Menikah, Mohammad Fauzil Adhim
3. Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq
4. Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim

Oleh : Faguza Abdullah
01.22 | 0 komentar

Kiat Mencari Jodoh

Written By Rizky Priyatna on Kamis, 07 Juli 2011 | 16.55


Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, supaya muncul suatu ketenangan, kesenangan, ketenteraman, kedamaian dana kebahagiaan. Hal ini tentu saja menyebabkan setiap laki-laki dan perempuan mendambakan pasangan hidup yang memang merupakan fitrah manusia, apalagi pernikahan itu merupakan ketetapan Ilahi dan dalam sunnah Rasul ditegaskan bahwa “Nikah adalah Sunnahnya”. Oleh karena itu Dinul Islam mensyariatkan dijalinnya pertemuan antara laki-laki dan perempuan dan selanjutnya mengarahkan pertemuan tersebut sehingga terlaksananya suatu pernikahan.

Namun dalam kenyataannya, untuk mencari pasangan yang sesuai tidak selamanya mudah. Hal ini berkaitan dengan permasalahan jodoh. Memang perjodohan itu sendiri suatu hal yang ghaib dan sulit diduga, kadang-kadang pada sebagian orang mudah sekali datangnya, dan bagi yang lain amat sulit dan susah. Bahkan ada kalanya sampai tua seseorang belum menikah juga.

Fenomena beberapa tahun akhir-akhir ini, kita melihat betapa banyaknya muslimah-muslimah yang menunggu kedatangan jodoh, sehingga tanpa terasa usia mereka semakin bertambah, sedangkan para musliminnya, bukannya tidak ada, mereka secara ma’isyah belum berani maju untuk melangkahkan kakinya menuju mahligai rumah tangga yang mawaddah wa rahmah. Kekhawatiran jelas tampak, di tengah-tengah perekonomian yang semakin terpuruk, sulit bagi mereka untuk memutuskan segera menikah.

Gejala ini merupakan salah satu dari problematika dakwah dewasa ini. Dampaknya kaum muslimah semakin membludak, usia mereka pelan namun pasti beranjak semakin naik.

Untuk mencari solusinya, dengan tetap berpegangan kepada syariat Islam yang memang diturunkan untuk kemaslahatan manusia, beberapa kiat mencari jodoh dapat dilakukan :

1. Yang paling utama dan lebih utama adalah memohonkannya pada Sang Khalik, karena Dialah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan (QS.4:1). Permohonan kepada Allah SWT dengan meminta jodoh yang diridhoiNya, merupakan kebutuhan penting manusia karena kesuksesan manusia mendapatkan jodoh berpengaruh besar dalam kehidupan dunia dan akhirat seseorang.

2. Melalui mediator, antara lain:

a. Orang tua. Seorang muslimah dapat meminta orang tuanya untuk mencarikannya jodoh dengan menyebut kriteria yang ia inginkan. Pada masa Nabi SAW, beliau dan para sahabat-sahabatnya segera menikahkan anak perempuan. Sebagaimana cerita Fatimah binti Qais, bahwa Nabi SAW bersabda padanya : Kawinlah dengan Usamah. Lalu aku kawin dengannya, maka Allah menjadikan kebaikan padanya dan keadaanku baik dan menyenangkan dengannya (HR. Muslim).

b. Guru ngaji (murabbiyah). Jika memang sudah mendesak untuk menikah, seorang muslimah tidak ada salahnya untuk minta tolong kepada guru ngajinya agar dicarikan jodoh yang sesuai dengannya. Dengan keyakinan bahwa jodoh bukanlah di tangan guru ngaji. Ini adalah salah satu upaya dalam mencari jodoh.

c. Sahabat dekat. Kepadanya seorang muslimah bisa mengutarakan keinginannya untuk dicarikan jodoh. Sebagai gambaran, kita melihat perjodohan antara Nabi SAW dengan Khadijah RA. Diawali dengan ketertarikan Khadijah RA kepada pribadi beliau yang pada saat itu berstatus karyawan pada perusahaan bisnis yang dipegang oleh Khadijah RA. Melalui Nafisah sebagai mediatornya akhirnya Nabi SAW menikahi Khadijah RA..

d. Biro Jodoh. Biro jodoh yang Islami dapat memenuhi keinginan seorang muslimah untuk menikah. Dikatakan Islami karena prosedur yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam. Salah satu di antaranya adalah Club Ummi Bahagia.

3. Langsung, dalam arti calon sudah dikenal terlebih dahulu dan ia berakhlaq Islami menurut kebanyakan orang-orang yang dekat dengannya (temannya atau pihak keluarganya). Namun pacaran tetap dilarang oleh Islam. Jika masing-masing sudah cocok maka segera saja melamar dan menikah. Kadang kala yang tertarik lebih dahulu adalah muslimahnya, maka ia dapat menawarkan dirinya kepada laki-laki saleh yang ia senangi tersebut (dalam hal ini belum lazim di tengah-tengah masyarakat kita). Seorang sahabiat pernah datang kepada Nabi SAW dan menawarkan dirinya pada beliau. Maka seorang wanita mengomentarinya, “Betapa sedikit rasa malunya.” Ayahnya yang mendengar komentar putrinya itu menjawab, “Dia lebih baik dari pada kamu, dia menginginkan Nabi SAW dan menawarkan dirinya kepada beliau.”

Sebuah cerita bagus dikemukakan oleh Abdul Halim Abu Syuqqoh pengarang buku Tahrirul Mar’ah, bahwa ada seorang temannya yang didatangi oleh seorang wanita untuk mengajaknya menikah. Temannya itu merasa terkejut dan heran, maka wanita itu bertanya, “Apakah aku mengajak Anda untuk berbuat haram? Aku hanya mengajak Anda untuk kawin sesuai dengan sunnah Allah dan Rasul-Nya”. Maka terjadilah pernikahan setelah itu.

Semua upaya tersebut hendaknya dilakukan satu persatu dengan rasa sabar dan tawakal tidak kenal putus asa. Di samping itu seorang muslimah sambil menunggu sebaiknya ia mengaktualisasikan kemampuannya. Lakukan apa yang dapat dilakukan sehingga bermanfaat bagi masyarakat dan dakwah. Jika seorang muslimah kurang pergaulan, bagaimana ia dapat mengenal orang lain yang ingin menikahinya.

Barangkali perlu mengadakan evaluasi terhadap kriteria pasangan hidup yang ia inginkan. Bisa jadi standar ideal yang ia harapkan menyebabkan ia terlalu memilih-milih. Menikah dengan orang hanif (baik keagamaannya) merupakan salah satu alternatif yang perlu diperhatikan sebagai suatu tantangan dakwah baginya.

Akhirnya, semua usaha yang telah dilakukan diserahkan kembali kepada Allah SWT. Ia Maha Mengetahui jalan kehidupan kita dan kepadaNyalah kita berserah diri. Wallahu A’lam bishowab. (hudzaifah/hdn)



Herlini Amran

16.55 | 0 komentar

Ubah Ciptaan Allah : Umpama Mencabar Kuasa-Nya


Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan yang tersendiri. Tidak ada manusia yang sempurna kecuali Rasulullah SAW baik dari segi akhlak maupun rupa paras. Kita tidak perlu berasa sedih dan susah hati lantaran dikaruniakan rupa paras yang tidak cantik, tubuh badan yang tidak menarik, malah dijadikan sebagai seorang lelaki ataupun wanita. Setiap makhluk yang Allah SWT jadikan adalah unik dan sempurna kejadiannya.

Sememangnya Allah SWT menjadikan kita dengan berbagai rupa dan gaya. Mana mungkin Allah yang Maha Mencipta menjadikan setiap manusia mempunyai wajah yang sama. Sedangkan cap jari yang Allah ciptakan kepada setiap hambanya juga berbeda.

Sebenarnya di situlah berkuasanya Allah SWT yang mampu dan berhak menjadikan sesuatu mengikut kemauan-Nya. Jadi tidak perlulah mempersoalkan tentang ciptaan Allah atas kejadian kita. Terimalah anugerah dan karuniaan itu seadanya dengan rasa syukur tanpa perlu mengubahnya atas faktor nafsu.

Menurut Dr Asiah Ali, Mantan Pensyarah di Pusat Pemikiran & Kefahaman Islam, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam, apabila membincangkan isu berkaitan mengubah ciptaan Allah SWT, ia lebih difokuskan kepada para wanita karena mereka tidak boleh lari daripada perasaan ingin cantik dari sudut penampilan diri dan juga kesehatan dalaman. Beliau berpendapat, tuntutan zaman sekarang yang terlalu banyak iklan-iklan kecantikan turut menyumbang kepada kemauan masyarakat untuk mengubah bentuk asal rupa dan juga kejadian diri sendiri.

"Wanita digalakkan untuk menjaga penampilan diri lebih-lebih lagi apabila berhadapan dengan suami. Bagaimanapun, dalam kita berhias untuk kesehatan dan kecantikan, pastikan ia tidak mengubah bentuk asal kita. Kadang-kadang, ada wanita yang niat asalnya adalah untuk tatapan suami tetapi akhirnya telah terpesong niatnya," Jelas beliau.


sumber : love Islam

00.13 | 0 komentar

Harus berhati-hati

Written By Rizky Priyatna on Senin, 04 Juli 2011 | 02.14


Mata sebenarnya ngantuk banget, badannya capek, lelah letih…Maklum sebulan ini PKPA yg lumayan menguras energy dan benar2 ga ada istirahat..pagi PKPA malamnya bikin laporan..tp malam ini tangannya masih ingin bereaksi…mengotak atik, otaknya lg mau bereaksi, hati ingin menulis sesuatu. Tapi binggung nulis apa…hmmmmm…….(tunggu dl yah sz pikir2 dulu)^___^ *Think

Sz ga suka nulis cerita hayalan, jd sekarang mengingat kisah nyata apa ya yang pantas untuk di angkat. Oy teringat sebuah cerita kisah nyata dari salah satu seorang sahabatku (ga perlu di sebutkan lah yah namanya????upzzzz jangan penasaran gitu dong)

Begini ceritanya….

Menurut dari seorang sahabat saya. Kita anggap saja namanya si aminah, nah…si aminah ini punya teman namanya kita anggap saja sinta deh…Sinta ini salehah banget untuk ibadahnya bagus banget, dia termasuk tipe wanita yg peduli terhadap sesame dan aktif di dakwah…pokoke bisa di bilang the-best lah…

Si sinta ini punya kebiasaan iseng….se pele sich keliatannya, kebiasaannya memakai kutek pada saat berhalangan..krn berfikir kuku kan jadi cantik dan dia jg lagi berhalangan jadi ga akan terganggu untuk masalah wudhu dan ibadah lainnya. sepele banget kan perbuatan yg dia lakukan???

Tapi kita tidak pernah kan keadaan satu hari ke depan, 1 jam, 1 menit bahkan 1 detik kemudian..

(ceritanya udah mulai sedikit tegang nich)…..

Teman-teman tau g apa yang terjadi????

(ga tau ya???)

Mau tau ga cerita selanjutnya???

Miris sih sebenarnya untuk menceritakan…

tapi

ini harus di sampaikan..

sebagai pelajaran buat kita jgn iseng2….

Yah….Begitulah hidup..kita mmg hrs berhati2 dalam hidup ini…

Tidak menggap sepele tentang apapun..

Kita lanjut keceritanya yah….

Jadi si sinta itu sekarang sudah meninggal dunia….

Dia meninggal dalam keadaan berkutek...

Menurut temanku, saat meninggal itu kuteknya masih ada sisa di tangannya…

Mungkin yang memandikan kurang begitu mengerti cara menghilangkannya

Atau mungkin kesulitan menghapus atau apalah…sz juga ga tau…

Teman2 bisa banyangkan????

Kondisi meninggal keadaan berkutek..

kita semua meninggal hrs di mandikan jenazah

sedangkan

salah satu sah nya mandi wajid, berwudu’ apa lg mandi jenazah semua air mengalir di tubuh..

kebayang ga mandinya bisa jd ga sah gara2 tangan msh ada di kutek……Nauzubillah minzalik

Aduh…sepertinya ga sanggup melanjutkan ceritanya….

Ini semoga jadi pelajaran kita semua..

Semoga Allah mengampuni dosa beliau, semoga Allah memaafkan beliau…Amin Ya Rabb…

Suzie Warrohmah widya

30/6/2011 jam 20.15

02.14 | 0 komentar

Peranan WANITA Sebagai ISTRI

Written By Rizky Priyatna on Selasa, 28 Juni 2011 | 04.43


Tugas wanita yang utama dan penting adalah mewujudkan suasana yang tenang dan tentram bagi suami dan setiap anggota keluarganya mengenal Allah dan seterusnya beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu

Islam telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya pada kaum wanita untuk menunaikan tugas ini dengan meringankan kewajiban lain seperti tidak wajib... berjemaah di masjid dan sembahyang Jum'at dan dibolehkan meninggalkan puasa bila mengandung atau menyusui dan menggantikannya kemudian dan lain lagi.

1. Wanita mesti melayani suami dan taat pada suaminya dalam batas-batasyang dibenarkan Islam.

Dalam beberapa hadits disebutkan sebagai berikut : "Andaikata saya dapat menyuruh seseorang bersujud pada orang, niscaya saya suruh wanita sujud pada suaminya." (Tirmidzi);

"Apabila seorang suami memanggil istrinya untuk sesuatu hajatnya, maka harus segera disambut, walau ia sedang menjaga masakan di atas api." (Tirmidzi) ;

"Tiada halal bagi seorang istri berpuasa sunat di waktu ada suaminya, melainkan dengan izin suaminya. Juga tidak boleh istri mengizinkan orang masuk ke rumahnya melainkan dengan izin suaminya." (Bukhari dan Muslim)

Sebagai contoh, lihat nasihat Umm Iyas kepada anaknya di hari perkawinannya :

"Hendaklah kau berpuas hati dengannya dan apa yang dapat diberikan kepadamu dan taat kepadanya. Hendaklah jangan dia melihat apa-apa yang tidak baik pada dirimu, ataupun mencium apa-apa yang tidak baik dari dirimu. Hendaklah kau diam bila dia sedang tidur dan menyediakan makanan bila tiba masa makannya. Hendaklah kamu memelihara hartanya dan mengawasi dan memelihara anak-anaknya. Hendaklah kamu menyimpan rahasianya dan jangan sekali-kali ingkar akan perintahnya. Janganlah kamu bergembira bila dia bersedih dan janganlah kamu bersedih apabila dia bergembira."

Di balik tugas-tugas istri pada suaminya, istri pun berhak untuk dipergauli dengan baik oleh suaminya.

Firman Allah SWT :

"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa

dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka

secara patut. Kemudian bila kau tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sebagian padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (An Nisa' : 19)

Istri juga adalah tempat suami bermain dan berhibur dengannya. Suami juga boleh merasa cemburu terhadap istrinya hanya untuk kebaikan seperti menyuruh istrinya menutup aurat di hadapan bukan muhrimnya. Tidak boleh kedua suami istri menjadikan suasana rumah tangga tegang.

Suami hendaklah membelanjakan hartanya menurut kemampuannya kepada istri dan keluarganya.

Firman Allah SWT:

"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan."(At Thalaq:7)

Sabda Rasulullah SAW : "Satu dinar kau dermakan dalam perjuangan fi sabilillah, dan satu dinar kau belanjakan untuk memerdekakan budak, dan satu dinar kau sedekahkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang

kau belanjakan untuk keluargamu, yang terbesar pahalanya ialah yang kau belanjakan untuk keluargamu." (Muslim)

Istri juga berhak mendapatkan hubungan intim (sexual) dengan suaminya sebagai salah satu pemenuhan nafkah batinnya. Sabda Nabi SAW :"Sesungguhnya pada setiap tasbih itu sedekah, pada setiap takbir juga sedekah, setiap

tahmid sedekah, setiap tahlil sedekah. Begitu pula dengan menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat pun sedekah, dan persetubuhan dengan istrinya juga sedekah." (Muslim)

Suami juga hendaklah mendidik istrinya ataupun memberi kemudahan untuk istrinya mendapat didikan Islam baik dari segi aqidah Islam ataupun akhlaq Muslimah.

Firman-Nya :"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah

dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At Tahrim : 6)

Dalam hadits :"Kamu sekalian memimpin dan kamu masing-masing ditanya tentang rakyatnya.

Raja pemimpin, suami pemimpin pada keluarganya, dan istri memimpin rumah tangga suaminya dan anak-anaknya. Maka kamu sekalian memimpin dan akan bertanggung jawab atas pimpinan terhadap rakyatnya." (Bukhari dan Muslim)

Islam memuliakan wanita dan mengaitkan kesempurnaan iman lelaki dengan kebaikan pergaulannya dengan istrinya. Rasulullah SAW bersabda :"Sesempurna-sempurnanya orang mu'min dalam imannya, ialah yang baik budi

pekertinya. Dan sebaik-baik kamu ialah yang terbaik pergaulannya terhadap istrinya." (Tirmidzi)

2. Wanita mempunyai tanggung jawab yang besar dalam rumahnya.

Oleh sebab itu mereka tidak dibebankan keluar mencari nafkah dan hendaknya menunaikan kewajibannya yang penting yaitu mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya sehingga bila suaminya pulang dari pekerjaannya akan merasa gembira. Hasil kerja suaminya itu digunakan untuk memberi nafkah anak dan istrinya. Tugas menguruskan rumah ini bisa menghabiskan semua waktunya.

Islam menghendaki wanita selalu berada di dalam rumah dan tidak meninggalkan rumah terkecuali ada kepentingan yang mendesak. Ini untuk memastikan bahwa tiada ruang baik syeitan untuk menghasut suami supaya

marah kepada istri, karena begitu pentingnya ridho suami atas istrinya ini, sebagaimana sabda Nabi SAW : "Tiap istri yang mati dan diridhoi oleh suaminya akan masuk surga." (Tirmidzi)

Tetapi kita lihat zaman sekarang ini, boleh dikatakan setiap wanita keluar bekerja atas alasan membantu lelaki atau mempunyai alasan-alasan lain. Apabila wanita keluar bekerja bertambahlah masalah dan beban karena rumah tangga dan anak-anaknya bisa terlantar.

Wanita hanya dibenarkan keluar bekerja apabila terdesak karena tiada siapa pun yang dapat memberi nafkah kepada mereka seperti suaminya sendiri.

Contoh yang dapat diambil ialah bagaimana kedua anak-anak perempuan Nabi Syu'aib yang terpaksa keluar mengambil air karena tiada orang lain lagi yang dapat membantu mereka. Bapak mereka telah tua, akhirnya mereka terpaksa menunggu kesemua orang lelaki habis mengambil air barulah mereka pergi ke tempat air itu.

Apabila wanita terpaksa keluar bekerja, mereka hendaklah berakhlaq baik sebagai Muslimah dan mematuhi landasan syari'ah seperti misalnya mereka tidak boleh bercampur gaul dengan bebas dengan lelaki lain, menutup aurat

mereka seperti yang dijelaskan dalam Al Qur'an dan Sunnah dan mematuhi hukum hijab. Wanita boleh membantu suaminya di tempat yang sama dengan suaminya bekerja dan mudah pula baginya untuk menguruskan rumahnya dan anak-anaknya yaitu hanya bila anak-anaknya sudah besar, seperti di kedai suaminya atau di ladang suaminya.

Wanita bekerja adalah satu perkara biasa buat masa ini. Sebenarnya wanita telah dijadikan senjata untuk memusnahkan Islam oleh musuh Islam seperti Yahudi. Mereka mengubah kedudukan wanita Islam yang sebenarnya

dengan membebaskan wanita dari tatasusila Islam ; wanita mesti bekerja seperti lelaki atau menjadi ketua negara, atau wanita boleh memakai apa saja yang mereka suka. Mereka telah mengasaskan sistem pelajaran di mana

wanita dididik dengan apa yang tidak mereka perlukan di rumah. Setengah masyarakat Barat telah sadar seperti 90% wanita Perancis ingin kembali kepada tugas asal mereka yaitu di dalam rumah. Salah satu sebab anak-anak tidak mengenal ibu bapa ialah karena ibu bekerja. Islam telah punya suatu penyelesaiannya sebelum mereka ini menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai masalah ini.

Bagaimanakah gambaran rumah yang harus diuruskan oleh MuslimahShalihin ? Rumah Muslim yang sebenarnya ialah rumah yang mengenal Allah dan Rasul-Nya dan mencintai mereka. Di dalamnya senantiasa didengarkan

nama Allah dan Rasul-Nya melalui bacaan Qur'an, perbincangan dan ucapan yang baik-baik dan cerita-cerita perjuangan sahabat dan peperangan ummat Islam dahulu. Rumahnya juga hendaklah menyediakan perpustakaan mini, yang isinya antara lain al Qur'an, Hadits dan buku-buku Islam yang baik yang dituliskan oleh orang-orang yang berilmu atau pejuang Islam yang ternama.Wanita hendaklah memastikan bahwa buku-buku ini dibaca dan senantiasa digunakan oleh setiap anggota keluarganya.

Rumahnya senantiasa dijadikan pusat penyebaran Al Islam dan tempat masyarakat mendapat ilmu dan nasihat tentang Deen. Wanitanya senantiasa membelanjakan hartanya di jalan Allah dan berjihad. Kepemimpinan rumahnya

adalah terletak di tangan lelaki sebagaimana firman Allah SWT : "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagaian yang lain (wanita),

dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."(An Nisa' : 34)

Wanitanya tidak boleh keluar rumah tanpa kebenaran atau izin suaminya.Dia senantiasa menjaga kebersihan rumahnya. Keluarganya senantiasa mencari tahu tentang kesejahteraan tetangga mereka dan melayani tamu mereka dengan sebaik-baiknya pelayanan. Rumahnya senantiasa sederhana baik dari segi penataan maupun isinya yaitu tiada unsur kemewahan seperti pinggan mangkuk dari emas atau perak atau sutra untuk lelaki. Sabda Nabi SAW : "Termasuklah kebahagiaan hidup seseorang manusia ialah mempunyai istri yang baik, tempat tinggal yang baik dan kendaraan yang baik." (Ahmad)

Mereka senantiasa melakukan perkara yang dipermudahkan Allah (kecuali yang membawa dosa), sepeti menjama' dan mengqasharkan sholat bila dalam perjalanan dan tidak berpuasa di bulan Ramadhan bila bermusafir.

Suami yang telah memilih istri yang sholehah dapat menjamin bahwa ia akan teguh pendiriannya dalam amalan diennya, baik di waktu senang maupun susah. Dia selalu mendorong suami dalam tugas-tugas da'wah dan tidak

menjadi batu penghalang dengan sifat, kelakuan dan kata-katanya.

Walahu'alam bi shawab


Suzie Widya

04.43 | 0 komentar

20 Cara Membahagiakan Suami Anda


1. Anda adalah sekuntum mawar yang sedang bersinar di rumah Anda. Buatlah disaat suami Anda masuk ke rumah, dia merasa bahawa kecantikan dan keharuman mawar tersebut, tidak bukan dan tidak lain hanyalah untuknya seorang.

2. Bagaimana caranya agar suami Anda itu boleh merasa tenteram dan nyaman, baik dengan perbuatan ataupun dengan kata-kata ? Hal... itulah yang secara terus menerus Anda selalu usahakan untuk suami Anda. Untuk kesempurnaannya, lakukan itu dengan sepenuh jiwa.

3. Bersopan dan penuh perhatianlah Anda ketika berbincang-bincang, jauhkanlah perdebatan dan hindarkan sikap keras kepala untuk mengemukakan pendapat Anda.

4. Pahami kebenaran dan keindahan prinsip-prinsip Islam di balik kelebihan sang suami terhadap Anda selaku istri, yang memang terkait dengan kodrat seorang wanita, dan janganlah hal ini dianggap sebagai sesuatu yang dzolim (penindasan).

5. Lembutkanlah suara Anda ketika berbicara dengan suami dan pastikan suara Anda tidak meninggi pada saat dia bersama Anda.

6. Pastikan Anda bangun pada malam hari untuk melakukan sholat malam secara rutin, hal ini akan membawa kecerahan dan kebahagiaan pada perkawinan Anda, sungguh mengingat Allah SWT akan membawa ketenangan pada hati Anda.

7. Bersikaplah diam ketika suami Anda sedang marah dan jangan tidur kecuali dia mengizinkannya.

8. Berdirilah dekat suami Anda ketika dia sedang memakai baju dan sepatunya.

9. Layanlah suami Anda sehingga merasa bahawa Anda menginginkan suami untuk mengenakan baju yang Anda pilih untuk dia, sebaik-baiknya anda yang memilih baju untuk suami Anda.

10. Anda harus sensitif dan memahami keperluan suami Anda, untuk menjadikan pernikahan Anda menjadi yang terbaik tanpa membuang waktu Anda yang banyak.

11. Ketika ada perselisihan pendapat, hendaknya Anda tidak menunggu agar suami meminta ma’af kepada Anda (jangan jadikan hal ini sebagai satu keperluan utama atau syarat terpenting pada diri Anda) kecuali kalau suami Anda secara sadar mengakui kesalahanya.

12. Perbaikilahlah penampilan dan pakaian suami Anda, biarpun kelihatannya suami Anda malas untuk memperbetulkan dan memakainya, tapi yakinlah bahwa dia akan menyukainya sebagaimana sahabat-sahabatnya juga akan menyukainya.

13. Kalau boleh Anda jangan selalu mengharapkan suami Anda untuk memulakan hubungan seks, sekali-sekala biarlah Anda yang memulakanya lebih dulu, pada waktu yang sesuai.

14. Di malam hari, jadilah seperti pengantin baru buat suami Anda, janganlah Anda terlena tidur lebih dulu dari suami, kecuali dalam suasana sangat perlu.

15. Janganlah menunggu atau mengharapkan balasan dari semua perbuatan dan kebaikan dari suami Anda, kebanyakan suami sentiasa sibuk dalam kerjayanya, memang suami mudah lupa untuk menghargai kebaikan anda, atau secara tidak sengaja lupa untuk menyampaikan penghargaan yang semestinya kepada Anda.

16. Hendaknya berbuat sesuai dengan keadaan dan kemampuan keuangan yang ada dan jangan meminta sesuatu yang berlebihan dan mahal.

17. Ketika suami Anda baru pulang dari perjalanan yang jauh dan lama ataupun agak jauh dari tempat kediaman anda, sambutlah dia dengan wajah yang ceria dan tunjukkanlah bahawa Anda sangat merindukan kedatangannya.

18. Ingatlah selalu bahawa semasa suami ada dan kewujudan suami adalah salah satu kemudahan mendekatkan diri Anda kepada Allah SWT.

19. Pastikan Anda untuk selalu memperbaharui dan merubah bentuk penampilan Anda, sebagai tanda dan ucapan kasih Anda menyambut suami tercinta.

20. Ketika suami meminta sesuatu untuk melakukan hal-hal tertentu, maka pastikan Anda melakukannya dengan sempurna dan sepenuh hati, jangan sampai Anda merasa enggan dan tidak bersemangat.

SELAMAT MENCOBA ^^

04.27 | 0 komentar

PERANAN WANITA ISLAM DALAM AL QUR'AN DAN SUNNAH

Written By Rizky Priyatna on Senin, 27 Juni 2011 | 00.35


Islam memerintahkan supaya kita memuliakan wanita, baik sebagai ibu, isteri, atau anak perempuan.

Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang mempunyai anak puteri, lalu ia mengajarinya dengan baik dan mendidiknya dengan baik, maka anak itu kelak akan menjadi tabir yang melindunginya dari neraka." (Bukhari)

Sebelum dewasa, wanita ditetapkan h...arus berada dalam pemeliharaan walinya, dan kekuasaan wali terhadap puteri itu berupa kekuasaan memelihara dan mendidik, serta memperhatikan segala keperluannya dan mengembangkan harta hak miliknya jadi bukanlah kekuasaan memiliki dan bertindak sewenang-wenangnya. Kemudian setelah anak puteri itu dewasa maka Islam menetapkan bahwa ia mempunyai hak yang penuh dan memiliki kecakapan yang sempurna untuk mempergunakan hartanya sama seperti lelaki.

Seorang suami tidak boleh menyusahkan dan berbuat sesuatu yang tidak baik dalam pergaulannya dengan isteri, dengan maksud supaya isterinya itu hendak menebus dirinya dengan mengembalikan semua atau sebagian dari harta yang telah diberikan kepadanya, selama isteri itu tidak berbuat jahat.

Allah SWT berfirman : "Jangan kamu berlaku kasar terhadap mereka itu lantaran kamu hendak pergi dengan membawa sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali apabila mereka berbuat kejahatan yang terang-terangan." (QS. An-Nisa' : 19)

Wanita itu dimuliakan seperti dalam ayat ini : "Sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah bahwa Dia menciptakan untuk kamu kaum pria, isteri-isteri kamu yang sejenis dengan kamu, agar kamu merasa tenang di sampingnya dan Dia menciptakan kasih sayang di antara kamu." (QS. Ar-Rum :21)

Dan Rasulullah SAW juga bersabda : "Kesenangan dunia yang paling baik ialah isteri yang saleh, kalau engkau menoleh kepadanya, maka dia membuat engkau merasa gembira dan kalau engkau bepergian, maka ia menjaga nama baikmu." (Muslim dan Ibn Majah)

Wanita sebagai ibu adalah juga mulia di dalam Islam sebagaimana firman Allah SWT :

"Dan Kami memerintahkan kepada manusia supaya ia berbuat baik ke- pada kedua ibu-bapanya, ibunya mengandungkan dia dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah." (QS. Al Ahqaf : 15)

Ada sebuah hadits yang mengisahkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW dan bertanya : "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya berbuat baik kepadanya ?" Rasulullah SAW menjawab : 'Ibumu' Orang itu bertanya lagi : 'Kemudian siapa lagi ?' Rasulullah SAW menjawab : 'Ibumu' Orang itu bertanya lagi : 'Kemudian siapa lagi ?' Rasulullah SAW menjawab : 'Ibumu' Lalu orang itu bertanya lagi : 'Kemudian siapa lagi ?' Rasulullah SAW menjawab : 'Kemudian ayahmu." (Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain diterangkan, "Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW lalu berkata :'Ya Rasulullah, saya ingin turut jihad berjuang menegakkan agama Allah.' Rasulullah SAW bertanya kepadanya,'Adakah ibumu masih hidup ?' Orang itu menjawab, 'Ya' Lalu Rasulullah SAW bersabda : 'Tetaplah engkau berada di dekat kaki ibumu itu, maka di sanalah syurga itu berada." (At-Thabarany)

Jelaslah bahwa wanita yang menjadi ibu dalam Islam, amat tinggi nilainya dan derajatnya. Anak-anak dituntut untuk menghormatinya dan tidak boleh mengabaikannya walaupun dengan sebab dan tujuan yang lebih besar seperti berjihad, yang diutarakan seperti dalam hadits di atas. Untuk merealisasikan maksud hadits di atas bahwa syurga di dekat kaki ibu itu, tentu saja memerlukan ibu yang beriman, bertaqwa serta berilmu pengetahuan dan bijaksana lagi saleh.

Allah SWT menciptakan wanita itu berbeda dari kejadian lelaki seperti bentuk tubuh, kemampuan dan kekurangan masing-masing. Wanita mempunyai batas sebagai seorang wanita dan begitu juga lelaki. Tetapi mereka bertanggung jawab mengembangkan zuriat dan pembesaran anak-anak, menurut perbedaan kejadian masing-masing. Wanita tidak boleh iri hati dan mengatakan bahwa Allah telah melebihkan kaum lelaki.

Allah SWT telah berfirman : "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikurniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagaian dari kurnia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An Nisa' : 32)

Wanita juga tidak boleh meminta atau meniru apa yang telah Allah SWT berikan kepada lelaki. Rasulullah SAW bersabda : "Bukanlah dari golongan kami orang-orang yang menyerupai laki-laki dari golongan wanita, dan laki-laki yang menyerupai wanita." (Al Hadith)

Allah telah menciptakan lelaki untuk bekerja keras dan berjerih payah mencari nafkah hidup. Ketetapan ini sejak Adam a.s. sampai ke anak cucunya. Allah SWT berfirman : "Maka kami berkata : "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari syurga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka." (Thaha : 117)

Dalam ayat ini Allah telah berfirman kepada Adam saja. Apabila Adam diturunkan ke bumi, dia terpaksa melakukan segala-galanya untuk mendapat makanan, minuman dan pakaian dan lain-lain yang jauh bedanya dari penghidupannya di syurga.

Allah SWT juga telah menciptakan Hawa untuk memberikan ketentraman pada kaum Adam dalam suasana rumah tangga. Wanita adalah sebagai rumah tempat lelaki mengistirahatkan dirinya dengan menerbitkan kasih sayang dan belas kasih serta rahmah antara keduanya. Wanita dicipta oleh Allah untuk melahirkan anak sejak Hawa lagi.

Allah SWT berfirman : "Dan di antara kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isterimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar Rum :21) Firman-Nya yang lain : "Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari ister-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni'mat Allah ? " (QS. An Nahl : 72)


SEBAGAI IBU DAN PENDIDIK

Sifat wanita sesuai dengan tugas ibu seperti tahan sabar dengan kelakuan anak karena kasih sayang yang telah tertanam dalam jiwanya sesuai dengan sifat keibuannya. Wanita telah diciptakan Allah melahirkan anak.

Mereka jugalah yang paling sesuai untuk memelihara dan seterusnya mendidik. Proses pertumbuhan manusia adalah lebih lambat jika dibandingkan dengan mahluk yang lain. Ibulah yang paling rapat dengan anak dan mengetahui apa yang diperlukan anaknya. Ibu mengikuti setiap perkembangan anak dan dia dapat mengetahui kemampuan anak-anaknya yang berbeda menurut umur dan kebijaksanaan anak. Oleh karena itu mudahlan baginya untuk mendidik anak-anaknya mengikuti tiap-tiap individu anak itu. Ibu dikatakan sekolah, karena jika anak itu dididik dengan baik oleh sang ibu, maka terwujudlah masyarakat yang baik.

Rasulullah SAW bersabda :"Tiada anak yang dilahirkan kecuali suci (fitrah), maka kedua ibu bapanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi."

Pendidikan yang bertujuan untuk melahirkan manusia yang patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, yang mempunyai akhlaq yang mulia mengikuti Al Qur'an dan Sunnah, yang berjiwa keIslaman dan yang berjuang berjihad menegakkan kalimah La ilaha illa Allah.


PENDIDIKAN WANITA

Keluarga Islam dan masyarakat Islam tidak akan sempurna jika wanitanya tidak mendapat didikan yang wajar sesuai dengan tugas mereka sebagai istri dan ibu. Hak menuntut ilmu adalah sama atas lelaki dan wanita : "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam." (Baihaqi)

Menurut pendapat fuqaha', pendidikan wanita terbagi dalam dua bagian yaitu fardhu 'ain dan fardhu kifayah. Ilmu fardhu 'ain yang mesti dituntut oleh setiap orang Islam ialah berkenaan dengan aqidah dan ibadah yaitu seperti

sholat, puasa, zakat, haji dan juga ilmu untuk menyeru yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. Wanita perlu pula mendapat didikan yang berupa kemahiran bagi seorang ibu dan istri seperti hal urusan rumah tangga dan hal urusan asuhan dan didikan kepada anak-anaknya.

Wanita Islam juga mesti dididik tata susila Islam untuk menjaga kehormatan dirinya baik dalam perkataan, pakaian, perbuatan dan sebagainya. Di antara ilmu pengetahuan agama yang terpenting dan di antaranya yang

bersangkut-paut dengan masalah yang halal dan yang haram yaitu soal-soal fiqh yang berdasarkan al Qur'an dan Hadits. Pemahaman yang benar dan menyeluruh dalam soal ini dapat diamalkan terus oleh wanita dan anggota

keluarganya dalam urusan pribadi, kehidupan keluarga dan masyarakat. Ini dapat menghindarkan amalan-amalan yang tidak berasal dari Islam dan adat-adat yang dilarang oleh Islam.

Adapun ilmu pengetahuan fardhu kifayah ialah ilmu pengetahuan umum yang hanya merupakan kebolehan saja. Apabila mereka tidak ingin mempelajarinya tidaklah mereka berdosa dan apabila mereka ingin mempelajarinya harus pula dengan cara-cara dan syarat yang sesuai dengan fitrah mereka dan ajaran Islam dan tidak menyinggung kehormatan wanita itu sendiri.

Kaum wanita juga diperbolehkan mempelajari ilmu apa saja yang sesuai dengan tabiat kewanitaannya dan untuk menambah keahliannya dalam mendidik anak-anaknya (seperti misalnya ilmu tentang penyakit anak-anak), memelihara dan mengatur kehidupan rumah tangganya, jika dia berkeinginan menambah ilmu pengetahuannya dalam bidang yang lain seperti perbidanan dan perguruan untuk kaum wanita, tidaklah mengapa asalkan tidak mengganggu tugas-tugasnya sebagai ibu dan istri dan dengan syarat mempelajarinya dengan cara yang diperkenankan agama, ialah tidak bercampur dengan kaum lelaki dengan dalih belajar, tidak

boleh membuka aurat di depan lelaki yang bukan mahramnya.


SEBAGAI INDIVIDU DALAM MASYARAKAT

Selain sebagai istri dan ibu, wanita juga tidak dikecualikan dari menyampaikan risalah pada kalangan wanita, yang tidak dapat dilakukan oleh pihak lelaki seperti memberi contoh sebagai wanita berkepribadian mu'min, mengajar tentang sesuatu yang sulit seperti perincian dalam hal bersuci

Kedudukan wanita dalam masyarakat mempengaruhi corak masyarakat. Penetapan yang telah ditetapkan Allah SWT mengenai hak dan kewajiban masing-masing baik lelaki maupun perempuan adalah untuk menjamin supaya tiada golongan dalam masyarakat itu dizalimi atau ditindas.

Setelah kita jelas bahwa ciptaan wanita tidak sama dengan lelaki, kemampuannya juga berbeda dengan lelaki, maka wajar sekali bila kewajiban yang diberikan Allah SWT berbeda sesuai menurut kejadiannya itu. Walaupun begitu, mereka tidaklah dipisahkan sama sekali karena peranan wanita dan lelaki dalam Islam adalah saling membantu antara satu sama lain.

Allah SWT berfirman : "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. At Taubah : 71)

Allah SWT menerangkan bahwa mukminin dan mukminat sama-sama tolong-menolong, bantu-membantu dan mengerjakan amar ma'ruf nahi mungkar sebagaimana firman-Nya :

"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya." (QS. AlMaidah : 2)

Wanita juga dituntut berjuang di jalan Allah untuk menegakkan hakimiahlillah bersama dengan lelaki dan bergerak dengan jemaah. Walaupun begitu, jemaah tidak menuntut lebih dari apa yang telah digariskan Al Qur'an karena mereka punya tugas-tugas khusus yang sesuai dengan kejadian dan kemampuan mereka. Tugas-tugas khusus ini adalah sebagian dari tugas penegakkan hakimiah Allah

00.35 | 5 komentar

Siti Khadijah isteri Rasulullah Ummul Mukminin Teladan

Written By Rizky Priyatna on Minggu, 26 Juni 2011 | 04.19


DAN setengah daripada tanda-tanda kebesaran-Nya bahawa Dia ciptakan untuk kamu daripada dirimu sendiri akan isteri-isteri, agar tenteramlah kamu kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kamu cinta dan kasih sayang.Sesungguhnya pada yang demikian adalah tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (ar-Rum: 21)

SITI Khadijah merupakan seorang wanita yang berasal daripada suku kaum Asadiyah, iaitu satu keturunan Quraisy yang amat dihormati dan disegani. Beliau dilahirkan pada tahun 68 sebelum hijrah iaitu 15 tahun sebelum tahun gajah, tahun kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibu bapanya dengan penuh kasih sayang serta diberikan tarbiah yang sempurna.

Pendidikan dan tunjuk ajar oleh ibu bapanya diterima dengan patuh dan taat, sehingga beliau tampil sebagai seorang wanita budiman dan berakhlak luhur serta tidak pernah bangga atau sombong dengan taraf kebangsawanannya. Kaumnya memanggil beliau dengan gelaran Al-Tahirah yang bermaksud perempuan suci. Sebelum berkahwin dengan Rasulullah, beliau pernah berkahwin dua kali, tetapi kedua-dua suaminya telah meninggal dunia. Ketika berkahwin dengan baginda, umur beliau ialah 40 tahun, manakala umur baginda 25 tahun.

Walaupun berbeda usia 15 tahun, tetapi rumah tangga mereka penuh dengan kedamaian dan ketenteraman, aman bahagia dan tidak pernah berselisih faham terhadap sesuatu masalah.

Beliau juga merupakan Ummul Mukmin pertama yang mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang tersendiri, berbeda dengan isteri-isteri baginda yang lain. Beliau bukan sahaja wanita yang jelitawan tetapi mempunyai harta kekayaan dan tergolong di antara orang-orang yang ternama di Mekah.

Beliau sangat pandai mentadbir perniagaannya sehingga berjaya sampai ke Yaman dan Syam. Beliau pernah menyerahkan urusan perniagaannya kepada baginda kerana percaya dengan kejujuran baginda. Sehinggalah sampai suatu ketika beliau jatuh cinta dengan kebaikan dan kelembutan Rasulullah, lalu menyatakan hasrat untuk menikahi baginda.

Beliau hidup bersama Rasulullah selama 24 tahun. Sepanjang menjadi isteri baginda, beliau menjadi suri rumah tangga dan kekal menjadi satu-satunya isteri baginda sehinggalah beliau meninggal dunia. Beliau telah melahirkan enam orang anak sedangkan isteri-isteri baginda yang kemudian tidak seorangpun yang melahirkan anak sepertinya.

Beliau juga menanggung berbagai-bagai penderitaan bersama-sama Rasulullah dalam usaha berdakwah dan menyeru kepada Islam. Ketika dua orang anak lelakinya iaitu Kasim dan Abdullah meninggal dunia, beliau bersama dengan baginda berdukacita menangisi pemergian anak-anaknya itu.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah untuk pergi ke Gua Hira kerana ingin bertafakur dan bermunajat kepada Allah seorang diri. Setiap kali baginda ke sana, baginda akan membawa sedikit bekalan yang disediakan oleh isterinya, Siti Khadijah. Apabila makanan sudah habis, baginda turun semula ke Mekah dan tawaf di Kaabah sebanyak tujuh pusingan, kemudian barulah kembali menemui isteri tercinta. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah, berulang alik dalam tempoh masa lebih kurang lima tahun di Gua Hira.

Sungguhpun demikian, Siti Khadijah tidak pernah berasa kecil hati terhadap Rasulullah. Malah, beliau berusaha agar baginda lebih memperoleh ketenangan dalam bermunajat kepada Allah. Oleh yang demikian, apabila Rasulullah pulang ke rumah, beliau tidak pernah mengeluh apatah lagi bermasam muka. Beliau melayani suaminya dengan baik, penuh hormat dan kasih sayang.

Begitulah tanggungjawab sebagai seorang isteri yang taat dan setia kepada suami sehinggalah beliau meninggal dunia dalam usia 64 tahun dan enam bulan. Semenjak pemergian Siti Khadijah, Rasulullah sangat sedih dan murung kerana begitu terasa kehilangan seorang kawan, teman, isteri, pembantu dan pembela ketika baginda menjalankan seruan Allah.

Nama Lengkapnya Siti Khadijah iaitu Siti Khadijah binti Khuwalid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai, yang tergolong daripada golongan bangsawan dan ternama di Mekah.

Petikan daripada buku Untaian 366 Kisah Daripada al-Quran, Edusystem Sdn. Bhd. Tel: 03-6137 9220 atau e-mel: edusb@streamyx. com.

04.19 | 0 komentar

Tips Memilih………….??????? ^_^



Memilih hal satu ini susah susah gampang bahkan mungkin susah susah sulit, kalau hanya sekedar memilih mungkin sangatlah gampang tapiiiiiiiiiiiiii untuk menentukan pilihan sangat sulit sekali ibarat melewati suatu pejalanan duri, kita harus melewat tapi jangan sampai melukai kita. Berbagai cara orang lakukan untuk melewati pilihan dari hal yang gampang sampai sulit, dari yang halal sampai haram, dari yang pantas sampai tak pantas…Sebenarnya kita memilih apa sih sepertinya sulit sekali???? Ayo tebak apa?????Jawaban anda benar “Memilih Pasangan Hidup”

Banyak cara orang lakukan untuk menentukan dan memilih pasangan hidup ada yang melewati proses pacaran bertahun-tahun, melewati orang tua dan sahabat, melakukan hal yang tak pantas dan bahkan melakukan ha-hal yang dilarang agama. berbagai carapun dilakukan tapi ada banyak cara mengenal calon suami secara singkat tanpa lewat proses pacaran. Tentu saja yang dimaksud adalah melewati orang-orang yang dapat dipercaya dan terpercaya, seperti guru ngaji, pendapat keluarga, para tetangga, sahabat dekat, dan yang terutama adalah sinyal dari Allah. Bagaimana sih melakukan hal itu dalam waktu singkat, bahkan tanpa lewat pacaran?????Begini nih….tipsnya……


1. Mengetahui Taat Beragama dan Akhlak Mulianya

Caranya:

* Tanyakan dan selidiki dengan seksama seberapa jauh pria itu beragama dan

bagaimana akhlaknya, taat menjalankan shalat 5 waktu, taat menjalankan puasa Ramadhan, patuh pada orang tua, menbaca Al-Qur’an, rukun dengan tetangga, dan sikapnya terhadap yang lemah atau miskin.

* Perhatikan teman-teman pergaulannya, apakah mereka taat menjalankan agama atau suka berbuat maksiat.


2. Apakah Menjauhi Maksiat

* Menanyakan kepada calon suami atau tetangga dekatnya tentang latar belakang kehidupannya, apakah ia pernah berjudi, minum-minuman keras, melakukan free sex atau tidak, dan bagaimana sikapnya terhadap teman yang berjudi atau minum-minuman keras atau melakukan pergaulan seks bebas.

* Mengetes pengetahuannya tentang perbuatan-perbuatan yang dipandang dosa besar dalam Islam.


3. Mengetahui Semangat Jihadnya

* Tanyakan pada teman-teman dekatnya apakah ia suka mengikuti kegiatan dakwah, seperti mengurus masjid, membantu pengajian, dll atau tidak.

* Amati dan cermati keadaan keluarganya apakah mereka suka membantu kegiatan dakwah atau tidak.

* Tes calon tersebut dengan beberapa kasus pelanggaran atau pelecehan terhadap agama, apakah yang bersangkutan merasa terpanggil untuk membela agamanya atau tidak. Amati bagaimana sikapnya bila mengetahui ada masjid dibakar oleh orang non Islam, misalnya apakah ia diam atau marah.


4. Mengetahui Apakah dari keluarga shalih

* Cek keluarganya tentang bagaimana shalat, puasa, usahanya mendapatkan rezeki, kewajiban membayar zakat, dll.

* Cek lingkungan tempat tinggalnya apakah tetangganya orang-orang yang shalih ataukah orang-orang yang suka berbuat maksiat dan di kampungnya terdapat masjid atau tidak.

* Cek lingkungan kerjanya, apakah ia bekerja ditempat yang melakukan usaha secara halal atau haram dan apakah teman kerjanya suka melakukan kegiatan maksiat atau taat kepada agama.


5. Apakah Taat Pada Orang Tua

* Tanyakan hal tersebut pada anggota keluarga atau kerabat dekat dan tetangganya.


6. Mandiri Dalam Ekonomi

* Tanyakan secara langsung, pada keluarga, tetangga atau teman-teman dekatnya tentang apakah ia benar-benar sudah bekerja atau belum. Apakah penghasilannya layak untuk bersuami istri atau belum.


7. Bagamana Kualitasnya Setara atau Lebih Baik

* Tes pengetahuan agamanya, intelektualnya (bagaimana sikapnya bila ia tidak punya uang untuk pulang, sedang ia mendapat kabar orang tuanya sakit di kampung dan mungkin tes dengan cara lainnya)

* Tes mentalnya (bagaimana sikapnya bila diamanahi uang oleh orang lain, sementara pada saat itu ia butuh uang untuk berobat atau mengetes dengan kasus yang lainnya)

* Tes emosinya (apa yang dia lakukan bila terlambat mendapat bagian makanan dan bisa dengan cara lainnya)

* Tes ketaatannya (bagaimana sikapnya bila dia dilarang masuk ke suatu ruangan, sedangkan di tempat itu dompetnya tertinggal atau dengan cara lain)

* Tes kesungguhan serta ketangguhannya (bagaimana sikapnya bila disuruh menjaga pintu keluar masuk karyawan, apakah orang yang terlambat dilarang dengan tegas supaya tidak masuk walau saudara sendiri atau calon istri dan mungkin dengan cara lain).


8. Dapat Memimpin

* Ajukan tes psikologi yang dapat mengukur tingkat kemampuan kepemimpinan calon.

* Selidiki tingkah laku dan kepribadian calon dalam pergaulan dengan teman-temannya.

* Selidiki kepribadian calon di tengah keluarganya, apakah ia orang yang memiliki kemampuan memimpin atau tidak

* Perhatikan cara dia menyelesaikan tugas-tugas yang diembankan kepadanya, apakah dapat diselesaikan dengan baik atau tidak.


9. Memiliki Jiwa Bertanggung Jawab

* Selidiki dan amati dengan seksama perilaku calon dalam memikul tugas-tugas yang diembankan kepadanya. (Misalnya bagaimana sikap ia bila dititipi barang untuk disampaikan kepada orang lain, apakah ia melaksanakannya dengan baik atau tidak)

* Tanyakan kepada teman-teman dekatnya, bagaimana ia menjalankan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya, apakah ia lakukan dengan penuh tanggung jawab atau tidak. (Bagaimana sikapnya bila disuruh orang tua untuk berbelanja, apakah uangnya dibelanjakan dengan benar atau tidak).

* Teliti kondisi lingkungan dan keluarganya, apakah ia termasuk orang yang suka melakukan tugas-tugas dengan penuh tanggung jawab atau tidak. (Bagaimana sikapnya bila dititipi uang simpanan bersama, apakah dipergunakan untuk kepentingan pribadi atau tidak).

* Uji calon dengan tugas atau persoalah hingga dapat diketahui seberapa besar tanggung jawabnya menyelesaikan persoalan tersebut.


10. Adil

* Tanyakan pada teman-teman atau keluarga dekatnya, apakah dalam pergaulan dengan mereka ia selalu bertindak adil ataukau terkadang adil, terkadang curang atau lebih banyak curang dari pada adil atau lebih mementingkan diri sendiri dan suka merugikan orang lain.

* Tes calon dengan beberapa tindakan, misalnya suruh membagikan sumbangan makanan dikampungnya apakah ia mengutamakan teman dekatnya dan mengabaikan orang lain atau memperlakukannya sama.

* Selidiki kebiasaan dan perilakunya dengan sesama saudara dalam keluarganya, apakah ia orang yang adil ataukah orang yang suka merugikan kepentingan saudaranya.


11. Berperilaku Halus

* Perhatikan kebiasaan calon dan keluarganya, apakah mereka suka berbuat kasar dan kejam atau tidak

* Tanyakan kepada teman-teman atau tetangga dekatnya, apakah calon atau keluarganya sehari-hari berperilaku ramah dan halus atau kasar dan kejam kepada orang.

* Tanyai para pembantu atau pelayan jika punya, apakah mereka sering diperlakukan kasar dan kejam atau diperlakukan kasar dan kejam atau diperlakukan halus dan terhormat.

* Ajukan sejumlah pertanyaan yang bersifat tes psikologis sehingga dapat diketahui apakah ia tipe orang yang kasar dan kejam atau halus dan mulia.


12. Tidak Kikir

* Tanyakan kepada teman, tetangga atau keluarganya, apakah calon bersifat kikir atau dermawan.

* Uji dengan beberapa kasus, misalnya minta bantuan memenuhi kebutuhan anak yatim atau orang jompo.

* Teliti kebiasaan keluarganya, apakah mereka kikir atau dermawan.


13. Tidak Lemah Syahwat

* Tanyakan kepada calon tentang keadaan dirinya. Sang calon tentunya harus menjawab dengan jujur atau dengan nama Allah. Jika ternyata ia berbohong, ia harus berani bertanggung jawab menanggung resikonya kelak. Cara ini kurang efektif, namun sebagai seorang muslim cara ini menumbuhkan tanggung jawab akhirat yang jauh lebih berat bagi yang bersangkutan.

* Minta calon untuk melakukan tes kesehatan seksual, apakah ia termasuk orang yang lemah syahwat atau normal.


14. Subur dan Senang Berketurunan

* Apakah dia senang punya anak atau tidak?

* Minta calon untuk lakukan tes kesehatan guna mengetahui apakah ia memiliki benih subur atau tidak.

Begitu banyak hal yang mesti wanita muslimah utarakan dengan jujur berkaitan

dengan memilih pasangan yang tepat. Memang perlu waktu dan proses, nikmatilah proses itu dengan tetap menjaga kehormatan diri dan kemuliaan akhlak.

Untuk mencari jawaban atas cara-cara di atas, wanita muslimah bisa meminta bantuan orang-orang terdekatnya yang dapat dipercaya. Mungkin tak semua cara dilakukan, yang penting wanita muslimah lebih tahu apa yang dimaunya. POKOKNYA TAK KAN RUGI LEBIH SELEKTIF MEMILIH SUAMI, WONG TARUHANNYA SURGA ATAU NERAKA, walau akhwat tiba-tiba menjadi Detektif ^_^.Kalau pun belum dapat yang sesuai sementara usia terus bertambah, jangan gundah karena Allah pasti punya rencana A, B, C, dan lain-lain yang lebih baik lagi untuk kita.

ALLAH MELIHAT PROSES DARI SUATU PERSOALAN, BUKAN MELIHAT PADA HASILNYA.

(Fairuz, Sumber: Memilih suami, M. Thalib)

00.29 | 0 komentar

Bagaimana pendapat anda tentang web ini?